Kamis, 21 Feb 2019 18:13 WIB

Alasan Kenapa Siswa yang Berani Aniaya Guru Harus Dihukum Rehabilitatif

Firdaus Anwar - detikHealth
Sang siswa sudah meminta maaf kepada guru, diselesaikan damai. (Foto: Ristu Hanafi/detikcom) Sang siswa sudah meminta maaf kepada guru, diselesaikan damai. (Foto: Ristu Hanafi/detikcom)
Jakarta - Sebuah video yang menunjukkan seorang murid tampak menantang mendorong-dorong gurunya viral di Facebook. Belakangan diketahui bahwa murid dan guru dalam video berasal dari SMKN 3 Yogyakarta dan kejadian direkam pada Rabu (20/2) siang.

Polisi turun tangan menangani kasus ini mengklarifikasi fakta di lapangan. Disebutkan bahwa siswa tadinya akan mengikuti ulangan di kelas namun tidak diperbolehkan membawa ponsel. Pada akhirnya pihak sekolah dan keluarga sudah bertemu menyelesaikan masalah dengan damai.

Sementara itu di media sosial masih ramai warganet yang mengecam kelakuan sang siswa. Beberapa bahkan ada yang berharap sang siswa diproses hukum.



"Kalo ujung nya DAMAI berarti ini bukan negara hukum," ujar salah satu pengguna Facebook.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi pernah mengatakan dalam mengaplikasikan hukuman pada siswa memang harus tegas namun mendidik. Tujuannya agar anak tidak terjebak pada perilaku yang justru bisa membuatnya menjadi pelaku kriminal lebih dahsyat lagi.

Pada kasus penganiayaan yang ekstrem sekalipun, seperti pernah terjadi tahun 2018 lalu di mana ada anak SMA memukul gurunya hingga tewas, anak dihukum namun bukan dengan undang-undang tindak pidana.

"Jadi kita sudah punya undang-undang, sebegitu membuncah perasaan kita, emosi kita, bisa dipahami. Tetapi mohon juga ada ketaatan pada undang-undang," ujar Seto tahun lalu.

"Pendidikan intinya bahwa mereka tidak boleh tapi caranya menghukum harus edukatif yang membuat dia insyaf dan tak mengulangi," lanjutnya.

(fds/frp)
News Feed