Jumat, 22 Feb 2019 16:55 WIB

4 Alasan Mengapa Mudah dan Sering 'Ngidam' Makanan Manis

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Makanan manis. Foto: Istimewa Makanan manis. Foto: Istimewa
Jakarta - Saat kita stres, mood jelek, atau sedang ingin diberi 'hadiah' usai berhasil melakukan sesuatu, secara tidak sadar kita akan terpikirkan untuk memakan sesuatu yang manis. Bahkan seringnya terasa seperti 'ngidam', tak dapat ditolak.

Makanan yang penuh gula bisa membawa masalah kesehatan untukmu jika terlalu banyak. Mulai dari diabetes, kolesterol, hingga obesitas. Ini 4 alasan mengapa kita mudah dan sering 'ngidam' makanan manis dan bagaimana cara menanganinya, dirangkum dari berbagai sumber:



1. Hormon kita 'cinta' gula

Saat kita lapar, hormon di dalam usus seperti peptide, ghrelin dan insulin pada dasarnya 'meminta' kita mendapatkan energi dari makanan. Michael Russo, MD, ahli bedah bariatrik di Orange Coast Memorial Medical Center menyebutkan hormon itu mengirimkan sinyal ke otak yang mengendalikan rasa lapar, mengidam, dan seberapa kenyang usai makan.

Gula seperti glukosa dan fruktosa bagaikan bensin yang langsung terbakar untuk memberi tubuh kita energi. Sehingga jika kita memakan terlalu banyak gula, tubuh menjadi terbiasa pada jenis energi kilat seperti ini dan akan timbul rasa ketagihan.

Dr Russo menyarankan untuk makan makanan kaya protein, karena protein merupakan sumber energi yang lambat dibakar. Nantinya hormon akan memberikan sinyal untuk membantu merasa lebih kenyang dengan jumlah dan jenis makanan yang kita makan, dan tak ada lagi ngidam yang manis-manis.

2. Otak kita terprogram untuk menggunakan glukosa jadi energi

Otak menggunakan glukosa sebagai energi sebanyak 95 persen. 5 persen lainnya berasal dari asam amino bernama glutamin, kata Craig Koniver, MD dari Primary Plus Organic Medicine. Bisa jadi rasa ngidam manis-manis ini disebabkan otak tidak mendapatkan cukup glukosa.

Sebenarnya kita bisa mengecoh otak kita dengan memakan lebih banyak glutamin, dalam bentuk suplemen misalnya. Dr Koniver juga menyarankan hal ini pada pasiennya: "Saat mereka mulai merasa ngidam, aku bilang untuk membuka kapsul suplemen dan menuangkan bubuknya di bawah lidah di mana langsung dibawa ke aliran darah," katanya.



3. Makanan manis jadi 'penopang' emosi

Sudah bukan rahasia lagi makanan manis jadi pelampiasan saat kita merasakan emosi atau stres. Menurut Barry Sears, PhD, presiden Inflammation Research Foundation, makanan manis menimbulkan respon hedonik di hipotalamus yang mengaktivasi sistem 'reward' dopamin.

"Peningkatan dopamin ini bisa dapat mengatasi rasa nyeri emosional," lanjutnya.

Untuk menguranginya, coba rencanakan makanmu tiap harinya, sehingga kamu bisa menahan diri untuk tidak merasakan keinginan makan makanan cepat saji atau olahan yang mengandung banyak sekali gula.

4. Pola makan masa kecil yang sulit diubah

Biasanya saat kecil kita suka diberi hadiah manisan saat kita berhasil melakukan sesuatu, seperti permen ataupun cokelat. Sehingga tanpa sadar kita terbiasa mengasosiasikan makanan manis dengan rasa senang.

"Otak kita mengasosiasikan makanan manis dengan rasa nyaman, rasa asuh dan kasih sayang. Sehingga menyebabkan siklus 'ngidam, hadiah, senang," kata psikolog klinis Carla Marie Manly, PhD, dikutip dari Men's Health.

Cobalah ganti makanan hadiah dengan yang sehat namun sama menyenangkannya. Atau tak perlu berbentuk makanan, seperti pijat. Perhatikan saat ngidam mulai muncul, alihkan dengan melakukan hal yang lain.

(frp/up)
News Feed