Senin, 25 Feb 2019 05:17 WIB

Serba-serbi Hipertensi, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Tim detikhealth - detikHealth
Foto: istock Foto: istock
Jakarta - Istilah hipertensi mungkin sudah tak asing dalam kehidupan Anda. Di mana salah satu dari penyakit yang cukup banyak diderita oleh kalangan orang dewasa hingga usia lanjut ini memang cukup banyak menyita perhatian.

Selain karena penderitanya yang terus meningkat setiap tahunnya, penyakit ini juga dapat menimbulkan gangguan atau kondisi kronis lainnya. Sebut saja seperti gangguan jantung, stroke, dan lain-lain.



Apa Itu Hipertensi?

Hipertensi atau yang juga disebut dengan tekanan darah tinggi merupakan suatu kondisi di mana tekanan darah berada pada angka di atas 120/80 mmHg. Biasanya penderitanya banyak ditemui pada kisaran usia dewasa hingga lanjut usia. Namun tidak menutup kemungkinan jika kondisi ini bisa menyerang siapa saja.

Tekanan darah bisa dikatakan normal apabila tekanannya pada angka yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Jika tekanannya di atas angka normal yaitu 120/80, maka bisa dikatakan jika orang tersebut mengalami tekanan darah tinggi.

Saat terjadi tekanan darah tinggi, maka organ jantung akan dipaksa untuk memompa darah dengan kondisi yang lebih keras lagi. Di mana jika kondisi ini terjadi, maka akan mengakibatkan adanya gangguan kronis lainnya, misalnya saja seperti gagal jantung, gangguan pada sistem ginjal, hingga kemungkinan untuk terjadinya stroke.

Menurut keterangan Badan Kesehatan Dunia (WHO), bahwa semua orang berpotensi dan memiliki risiko untuk mengalami tekanan darah tinggi. Bahkan menurut data yang telah ada, penderita tekanan darah tinggi akan terus mengalami peningkatan. Bahkan angkanya bisa melonjak tajam hingga 29% di tahun 2025.

Kasus tekanan darah tinggi seperti ini juga banyak terjadi di negara Indonesia. Di mana menurut data dari Riset Kesehatan Dasar Republik Indonesia di tahun 2013 menunjukkan bahwa lebih dari 25,8% dari penduduk Indonesia mengidap penyakit hipertensi. Bahkan di tahun berikutnya angka tersebut terus mengalami peningkatan hingga di tahun 2025 mendatang. Penyakit tekanan darah tinggi ini juga disebut dengan silent killer atau pembunuh diam-diam. Sehingga patut untuk diwaspadai setiap gejala dan kondisinya.



Gejala

Orang yang memiliki tekanan darah atau tensi di atas angka normal biasanya akan mengalami beberapa kondisi yang disebut sebagai gejala hipertensi. Berikut beberapa gejala darah tinggi atau hipertensi yang mungkin akan terjadi:

- Pusing
- Mual
- Sakit kepala yang teramat parah
- Penglihatan buram
- Telinga berdenging
- Detak jantung tidak beraturan
- Nyeri di bagian dada
- Sulit untuk bernafas
- Timbulnya rasa kebingungan yang tanpa sebab
- Keluarnya darah di dalam urine
- Adanya sensasi berdetak di bagian lain, seperti dada, telinga, dan leher

Jika beberapa gejala di atas Anda alami, maka segera untuk periksa ke dokter. Di mana tekanan darah atau tensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan seseorang mengalami kondisi yang lebih kritis, misalnya saja seperti gagal jantung, gagal ginjal, dan stroke.

Penyebab

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab seseorang memiliki tensi darah di atas normal. Berikut beberapa faktor penyebab hipertensi atau tekanan darah tinggi:

- Stres yang berlebihan
- Malas bergerak
- Kebiasaan merokok
- Obesitas atau kegemukan
- Sering kerja larut malam
- Penggunaan obat-obatan
- Gaya hidup yang kurang sehat
- Banyak makan-makanan yang mengandung garam terlalu tinggi
- Penggunaan pil KB

Penyebab Lain yang Meningkatkan Risiko Terkenanya Hipertensi

Selain beberapa faktor penyebab di atas, tekanan darah tinggi juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain. Di mana menurut data dari Riset kesehatan Dasar Republik Indonesia, lebih dari 25% penduduk Indonesia dengan usia di atas 18 tahun akan memiliki risiko terkena prehipertensi dan hipertensi.

Di mana kasus ini akan semakin meningkat dengan adanya faktor risiko yang dialami oleh penderita, seperti:

- Tingkat kelelahan yang sangat tinggi
- Asam urat
- Diabetes
- Obesitas
- Kadar kolestrol tinggi
- Kecanduan minuman beralkohol
- Penyakit ginjal
- Faktor turunan yang diwarisi dari orang tua atau keluarga inti lainnya

Meskipun beberapa faktor risiko di atas tidak Anda miliki. Bukan berarti jika Anda akan terhindar dari penyakit yang satu ini. Maka sebaiknya selalu waspada dengan kondisi kesehatan Anda dan apabila terjadi gejala seperti yang telah di sebutkan di atas, maka segera periksakan ke dokter.

Pencegahan

Seseorang dapat meminimalisir terjadinya penyakit tekanan darah tinggi dengan melakukan pencegahan dini. Di mana pencegahan ini dapat dilakukan dengan menerapkan gaya hidup sehat dan menghindari faktor risikonya. Berikut cara mencegah hipertensi yang bisa Anda lakukan:

- Konsumsi makan-makanan yang sehat dan rendah lemak
- Lakukan diet sehat untuk yang memiliki berat badan berlebih
- Pertahankan berat badan ideal
- Hindari kebiasaan merokok
- Hilangkan kebiasaan suka minum-minuman beralkohol
- Lakukan aktivitas fisik yang cukup seperti rajin berolahraga, aktif bergerak, dan lainnya
- Hindari begadang dan kerja di malam hari
- Kendalikan faktor emosianal pada diri Anda
- Banyak makan buah dan sayur
- Batasi konsumsi garam

Pengobatan

Bagi orang yang sudah terkena hipertensi, maka pengobatan menjadi cara yang paling tepat untuk dilakukan agar risiko akan penyakit ini tidak semakin parah. Untuk metode pengobatan hipertensi sendiri sebenarnya dapat dimulai dengan mengubah atau menerapkan gaya hidup yang lebih sehat.

Di mana cara ini lebih efektif dibanding motode pengobatan medis. Namun meskipun begitu, pengobatan medis tetap saja dibutuhkan agar seseorang dapat sembuh dari penyakit hipertensi yang dideritanya. Selain menerapkan gaya hidup sehat, beberapa obat ini juga dapat dikonsumsi untuk menurunkan tekanan darah tinggi seseorang, yaitu:

1. Kalsium Channel Blocker: Obat ini dapat dikonsumsi untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Di mana cara kerja dari obat ini adalah dengan menghambat gerakan kalsium ke dinding pembuluh darah dan sel jantung lainnya. Sehingga jantung akan lebih mudah memompa darah ke seluruh tubuh.

2. ACE atau Angiotensin Converting Anzyme Inhibitor: Obat ini memiliki kinerja untuk memperlebar bagian pembuluh darah untuk meningkatkan jumlah darah yang akan dipompa jantung ke seluruh tubuh.

3. ARB atau Angiotensin II Receptor Blocker: Kinerja dari obat ini hampir sama dengan ECE, namun mekanisme kerjanya berbeda. Sehingga bisa menjadi obat pelengkap untuk seseorang yang terkena tekanan darah tinggi.

4. Beta Blokers: Obat ini dapat dikonsumsi oleh penderita tekanan darah tinggi dengan sistem kerja memblokir efek yang ditimbulkan dari sistem saraf simpatik yang menuju pada jantung.

5. Diuretik: Obat ini juga dikenal dengan istilah pil air, yaitu obat yang digunakan untuk membuang air atau garam yang tidak dibutuhkan dan tidak terbuang bersama urine

6. Suplemen Minyak Ikan atau Omega 3: Mengkonsumsi suplemen minyak ikan atau omega 3 dapat menurunkan tekanan darah seseorang.

Selain itu, Anda juga bisa mengonsumsi makanan yang bisa menurunkan tekanan darah tinggi atau penyakit hipertensi, seperti sayuran hijau, buah berries, oatmeal, yoghurt, susu skim, biji-bijian, pisang, salmon atau ikan segar yang mengandung omega 3, bawang putih, minyak zaitun, cokelat hitam, dan buah delima.


Tonton juga video Ayo Buktikan Mitos Darah Tinggi:

[Gambas:Video 20detik]


Serba-serbi Hipertensi, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan
(nwy/up)