Jumat, 08 Mar 2019 19:29 WIB

Kata Bos Sido Muncul soal Sertifikasi Halal untuk Jamu

Tia Reisha - detikHealth
Foto: Tia Reisha/detikcom Foto: Tia Reisha/detikcom
Jakarta - Secara umum, jamu dibuat dari bahan-bahan alami seperti tumbuhan herbal sehingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak mengharuskan adanya sertifikat halal. Meski begitu, salah satu produsen jamu ternama di Indonesia, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk tetap mendaftarkan 270 produknya untuk mendapat sertifikat halal. Mengapa, ya?

Menurut Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan meski tidak diharuskan, ia tetap mendaftarkan produk-produknya ke MUI untuk melindungi konsumennya yang beragama Islam agar tidak mengonsumsi produk yang tidak halal.

"Kami memutuskan itu suatu keharusan bahwa produk yang ada di negeri ini harus memenuhi syarat untuk melindungi mereka yang beragama Islam supaya tidak melanggar. Ini juga saya lakukan untuk meyakinkan diri saya sendiri sebab kalau ada apa-apa itu tanggung jawabnya besar sekali," ujar Irwan di Kantor Sido Muncul, Jakarta Selatan, Jumat (8/3/2019).

Ia juga menyatakan bahwa semua produk perusahaannya memang halal dari sebelum sertifikat tersebut dikeluarkan karena MUI tidak mengharuskan surat keterangan halal untuk produk berbahan dasar tumbuhan.


"Perlu saya jelaskan bahwa yang sebelumnya juga halal, hanya lisensinya ini baru dapat. Kenapa baru melakukan sekarang? Karena dulu pengertiannya itu kalau produk-produk bahan baku jamu itu karena tumbuh-tumbuhan dan dari MUI dinyatakan tidak perlu surat keterangan halal," ujar Irwan

Sertifikat halal dari MUI pun secara resmi diserahkan untuk 241 dari 270 produk Sido Muncul pada Rabu (6/3). Sementara 29 produk lainnya masih dalam proses kelengkapan dokumen sebagai syarat untuk mendapatkan lisensi. Sertifikat itu pun terdiri untuk 3 jenis produk, yakni jamu, suplemen dan bahan suplemen, serta minuman dan bahan minuman.

Meski baru saja mendapat sertifikat halal, Irwan menjelaskan dari dulu produknya selalu mengikuti prosedur untuk menjaga kehalalan produk meski belum diresmikan. Bahkan, setiap produk Sido Muncul pun diproses melalui tahapan tes DNA menggunakan alat canggih, yakni Polymerase Chain Reaction (PCR). Alat ini biasa digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya kandungan gen untuk identifikasi patogen dari sedikit sampel DNA tertentu yang diujikan.

"Sisanya bukan karena tidak memenuhi syarat, tapi karena sumber bahannya dari supplier itu sertifikat halal dari MUI-ny expired sehingga mesti diulang, dikembalikan. Tapi semua produk kami dites DNA," tegas Irwan.


"Saya berpikir untuk melengkapi surat keputusan dari MUI ini dengan PCR untuk tes DNA. Jadi semua produk kami dari Tolak Angin, Tolak Linu, Kuku Bima, hingga kopi kami lakukan yang terakhir adalah tes pestisida, pupuk. Kemudian yang mandatory itu tes logam berat, cemaran mikroba, dan aflatoksin. Kami lengkapi dengan PCR untuk tes DNA supaya setiap batch itu meyakinkan," tambah Irwan.

Bahkan, untuk terus memastikan kehalalan produk setelah mendapat sertifikat tersebut, Sido Muncul juga menyimpan 12 sampel dari setiap produk selama 3 tahun di ruangan khusus dalam pabrik Sido Muncul.

"Perlu diketahui juga bahwa setiap batch yang kita screening melalui 5 tahapan, kami simpan 12 sachet selama 3 tahun. Jadi kalau ada yang bilang ini ada kandungan tidak halalnya, ya saya masih punya karena saya simpan. Ini untuk membuktikan kejadiannya itu post production atau pre production," pungkas Irwan. (prf/up)
News Feed