Sebuah studi yang diterbitkan Alimentary Pharmacology and Therapeutics pada 2007 menemukan bahwa orang-orang yang sering merasa cemas berisiko 2-4 kali terkena GERD. Tentunya, GERD lebih parah dibanding maag, yakni terjadi saat kenaikan asam lambung berubah menjadi kronis dan terus berlanjut 2 hingga 3 kali setiap minggu.
Lalu, mengapa stres bisa memicu naiknya asam lambung? Menurut Medical Manager Consumer Health Division PT Kalbe Farma, dr. Helmin Agustina Silalahi, rasa cemas bisa menurunkan produksi hormon yang melindungi lambung dari cairan asam lambung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, dr. Helmin mengatakan perlu adanya manajemen stres agar maag atau GERD tidak kambuh. Sebab, naiknya asam lambung bukan cuma disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur.
"Rasa cemas memicu produksi asam lambung sehingga memicu sakit maag. Jika pemicunya adalah stres, pasti sangat efektif jika bisa manajemen stres dengan baik. Sakit maag bisa diatasi dengan mudah jika pemicunya diketahui dengan pasti, termasuk akibat stres," ujar dr. Helmin kepada detikHealth, Selasa (12/3/2019).
Manajemen stres salah satunya bisa dilakukan dengan berkumpul bersama teman atau orang terdekat, meluangkan sedikit waktu untuk rileks di tengah rutinitas, maupun berjalan-jalan atau mendengarkan musik.
"Perlu diingat masalah akan ada selama hidup dan harus dihadapi karena semua masalah pada dasarnya bisa diselesaikan. Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika tidak ada perbaikan, mintalah pertolongan kepada ahlinya seperti psikiater," sambung dr. Helmin.
Namun jika sudah terlanjur terkena maag, segera minum obat maag seperti Promag yang dibuat dari bahan aktif antasida, di antaranya magnesium hidroksida, hydrotalcite, dan kalsium karbonat. Bahan aktif tersebut berfungsi untuk menetralkan asam lambung sehingga rasa sakit maag pun bisa reda.
"Jika sakit maag menyerang, aktivitas pasti terganggu sehingga produktivitas akan menurun. Jika tidak diatasi dengan baik dapat memperparah sakit maag seperti luka pada lambung dan perdarahan, dan peradangan kronik jika dibiarkan bisa memicu kanker," pungkas dr. Helmin. (idr/up)











































