Rabu, 13 Mar 2019 15:47 WIB

Viral Obat Bius Dijual Bebas di Medsos, Dokter Ingatkan Risiko Kematian

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Dokter prihatin ada obat bius dijual bebas di medsos (Foto: iStock) Dokter prihatin ada obat bius dijual bebas di medsos (Foto: iStock)
Jakarta - Umumnya, obat-obatan jenis tertentu tidak boleh diperdagangkan secara bebas, apalagi yang dikategorikan obat keras. Sayangnya, beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab bahkan menjual obat tersebut secara ilegal di akun sosial media miliknya.

Belum lama ini, seorang dokter mengungkap keprihatinannya melihat peredaran obat bius dosis tinggi yang dijual bebas. Cuitannya tersebut telah dibagikan lebih dari 1.400 kali oleh pengguna lainnya.

"Sering nemuin obat bius yang bisa bikin reflek nafas berenti dijual bebas di IG. Tenaga medis yang ga berkompetensi aja bisa bikin pasiennya meninggal (contoh: M. Jackson), apalagi orang awam. Baca2 tab komennya aku bersyukur orang yang make ini masih idup bisa bikin testimoni," tulisnya dalam akun @aan___





Dokter yang bernama asli Aan Kusumandaru juga menyertakan caption dari obat tersebut. Penjual menuliskan penggunaan dari obat ini seperti bisa membuat orang pingsan dalam waktu yang cukup lama setelah meminumnya.

Cuitan yang ia unggah pun mendapat banyak respon dan komentar terkait dengan penggunaan obat bius tersebut.

"Gila propofol mah bisa bikin orang lupa napas," tulis akun @BanyuSadewa.

Dikutip dari Everyday Health, propofol merupakan obat yang digunakan oleh dokter anastesi untuk membuat pasien tidak sadarkan diri sebelum melakukan operasi.

Jika diberikan tanpa panduan atau resep dokter, penggunaan obat ini bisa sebabkan masalah pada pernapasan, alergi, detak jantung melemah, bahkan meninggal secara mendadak karena kerusakan organ.

Salah satu efek penyalahgunaan obat ini adalah sistem saraf yang tertekan terlalu dalam. Dampaknya antara lain bisa mengalami henti napas atau apnea.

"Pasien bisa tidak bernapas dan jika efek henti napas tidak segera diatasi maka pasien akan kekurangan oksigen dan akhirnya akan membut efek merusakan organ lainnya termasuk ke sistem cardiovascular dan pasien bisa meninggal," jelas dr Reno Yonora, SpAn, dokter anestesi dari RS Siloam Bekasi.

(kna/up)