Rabu, 13 Mar 2019 17:45 WIB

Bahaya Propofol, Obat Bius Dosis Tinggi yang Dijual Ilegal di Media Sosial

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Obat keras tidak seharusnya bisa dijual bebas (Foto: thinkstock) Obat keras tidak seharusnya bisa dijual bebas (Foto: thinkstock)
Jakarta - Beberapa waktu lalu, beredar cuitan seorang dokter mengenai penjualan obat bius dosis tinggi yang dijual bebas khususnya di media sosial. Dalam cuitan tersebut, disebutkan bahwa obat bius jenis propofol ini memiliki efek samping yang sangat menbahayakan.

Spesialis anastesi dari RS Siloam Bekasi, dr Reno Yonora, SpAn, menuturkan sifat utama propofol adalah hipnotik. Propofol memiliki dua efek samping yang menarik yaitu efek antiemetik dan adanya sense of well-being setelah pemberian propofol.

"Onset hipnosis propofol sangat cepat (one arm-brain circulation) setelah pemberian dengan dosis 2,5 mg/kg, dengan efek puncak terlihat setelah 90 -i 100 detik. Untuk pasien dewasa Median dosis efektif (ED50) propofol untuk hilangnya kesadaran adalah 1 - 1,5 mg/kg setelah pemberian bolus. Durasi hipnosis tergantung pada dosis (dose dependent) kira-kira 5 - 10 menit setelah pemberian 2 - 2,5 mg/kg," tuturnya saat dihubungi detikHealth, Rabu (13/3/2019).

dr Eno, sapaannya, mengatakan penggunaan propofol pun memiliki dampak ke sistem saraf pusat, pernapasan (respirasi), yaitu bisa menyebabkan apnea atau tidak bernapas yang terjadi setelah pemberian propofol dengan dosis induksi, durasi dan insidensinya tergantung dari dosis pemberian, kecepatan induksi dan pemberian.



"Efek lainnya dari Propofol ke sistem Cardiovascular (jantung dan pembuluh darah). Pada pasien dengan tanpa gangguan kardiovaskuler, induksi dengan dosis 2 - 2,5 mg/kg menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik sebesar 25 - 40 %. Perubahan yang sama terlihat pada tekanan darah rata-rata dan tekanan diastolik," tambahnya.

Selain itu, pemakaian dalam dosis tinggi akan mengganggu fungsi jantung secara keseluruhan sehingga akan memengaruhi fungsi setiap organ.

"Jadi dengan menilai 3 efek utama dari obat ini saja, apalagi besarnya resiko yang akan di alami oleh sistem organ dalam tubuh, ini menjadi alasan mengapa obat ini hanya bisa dipakai atas rekomendasi Dokter berkompeten di bidangnya dalam hal ini Dokter Spesialis Anastesi," pungkasnya.

Salah satu dampak fatal penyalahgunaan obat ini, menurut dr Eno adalah gangguan sistem saraf pusat yang berdampak pada berhentinya pernapasan atau apnea. Kerusakan yang terjadi pada kondisi ini bisa berakibat pasien meninggal dunia.

(kna/up)
News Feed
Breaking News
×
Sidang Sengketa Pilpres 2019
Sidang Sengketa Pilpres 2019 Selengkapnya