Senin, 25 Mar 2019 17:27 WIB

Ridho Rhoma Masuk Penjara Meski Sudah Jalani Rehab, Rehab Tuh Ngapain Sih?

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Meski sudah rehab, Ridho Rhoma tetap harus menjalani sisa tahanan penjara. Foto: Ismail/detikHOT Meski sudah rehab, Ridho Rhoma tetap harus menjalani sisa tahanan penjara. Foto: Ismail/detikHOT
Jakarta - Ridho Rhoma diputus masuk penjara karena kasus sabu yang menyandungnya, meskipun ia sudah menjalani rehabilitas. Ridho Rhoma ditangkap pihak kepolisian Polres Metro Jakarta Barat pada 25 Maret 2017 karena memiliki narkotika jenis sabu seberat 0,7 gram.

Pada 19 September 2017, PN Jakbar menjatuhkan pidana kepada terdakwa selama 10 bulan. PN Jakbar juga menetapkan terdakwa menjalankan rehab medis dan sosial di RSKO Cibubur selama 6 bulan 10 hari. Tidak berapa lama setelah itu, Ridho bisa menghirup udara bebas dan kembali manggung lagi.

"Pidananya menjadi 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan penjara. Jadi, walau Terdakwa telah menjalani rehabilitasi namun dia harus masuk pejara lagi untuk menjalani sisa pidananya sesuai putusan Mahkamah Agung (MA) pada tingkat kasasi tersebut," kata jubir MA, hakim agung Andi Samsan Nganro saat dihubungi detikcom, Senin (25/3/2019).


Kasus Ridho Rhoma bukanlah yang pertama, sudah banyak artis yang terjerat kemudian menjalani rehabilitasi guna terbebas dari candu obat-obatan terlarang. Sebenarnya, seperti apa sih proses rehabilitasi itu? Menurut dr Hari Nugroho peneliti dari Institute of Mental Health Addiction and Neurosience (IMAN), rehabilitasi narkoba dijalankan berbasis ilmiah.

"Dalam proses rehabilitasi para pecandu pertama kali tentu akan dinilai atau diassess untuk tahu gambaran permasalahan yang dialami," jelas dr Hari.

Assessment ini meliputi pola pemakaian narkobanya, kondisi medis, kondisi keluarga atau sosialnya, dukungan psikosial termasuk pekerjaan, kondisi kesehatan jiwa dan juga terkait permasalahan hukum. Masih kata dr Hari, pada awal terkait pola dan kondisi medis, pasien akan dinilai apakah mengalami gejala putus zat, dan atau intoksikasi.

Gejala putus zat atau dikenal juga sakaw menimbulkan beberapa gejala, tergantung zat yang digunakan. Misalnya emacam putaw atau heroin, gejala putus zat yang timbul nyeri di sendi dan otot, kram perut, diare, hidung jadi meler seperti orang pilek, sering menguap, bulu kuduk bberdiri, atau mata berair dan merah.

"Jika pasien mengalami kondisi putus zat maka akan ditangani sesuai protokol pengobatan yang terstandar. Begitu juga dengan mereka yang mengalami intoksikasi apalagi yang mengancam nyawa seperti overdosis, akan ditangani sesuai protokol yang berlaku."


Tahap disebut sebagai detoksifikasi yakni penanganan kondisi putus zat dan intoksikasi. Setelah itu, pasien kembali dinilai lebih lanjut. Penentuan terapi atau langkah selanjutnya juga didiskusikan antara pasien dan konselor.

"Dari sinilah apat dilakukan intervensi sesuai dengan prioritas masalahnya. Modalitas terapi yang digunakan dapat bermacam-macam, misalnya motivational enhancement therapy, cognitive behaviour therapy, relapse prevention therapy, bahkan couple therapy atau marital therapy," tutur dr Hari.

"Bagi tempat rehab yang menjalankan program therapeutic community, program ini ibarat asrama yang terstruktur untuk tujuan terapi. Banyak hal yang dilakukan termasuk management conflict, seminar-seminar yang sifatnya meningkatkan pemahaman akan masalah yang mereka alami dan lain-lain."

Ada pula program narcotic anonymus yang sifatnya adalah self help group, yaitu group sharing yang terstruktur dengan semacam buku panduan dan renungan harian.

"Jadi kira-kira, itu yang dilakukan," tandasnya.



Ridho Rhoma Masuk Penjara Meski Sudah Jalani Rehab, Rehab Tuh Ngapain Sih?
(ask/up)
News Feed