Rabu, 27 Mar 2019 16:45 WIB

Berbagai Pemicu Serangan Epilepsi, Orgasme Salah Satunya

Rosmha Widiyani - detikHealth
Orgasme bisa menjadi salah satu pemicu serangan epilepsi (Foto: Thinkstock) Orgasme bisa menjadi salah satu pemicu serangan epilepsi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Seorang ayah Nedi Sito (55) menemukan anaknya Jumantri (23) tak bernyawa pada tanggal 25 Februari 2019 pukul 06.00 WIB di Probolinggo, Jawa Timur. Setelah diperiksa petugas medis setempat, Jumantri ternyata tewas akibat penyakit epilepsi yang kambuh.

Dikutip dari National Institite of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), epilepsi adalah gangguan sistem pada beberapa sel saraf yang ditandai aktivitas yang aneh dan kejang. Saat kejang, beberapa sel saraf memberi sinyal yang terlalu cepat hingga 500 kali dalam 1 detik. Akibatnya muncul gerakan, sensasi, emosi, dan perilaku yang tidak disadari hingga pingsan.

Pasien epilepsi berisiko mengalami mati mendadak yang disebut Sudden Unexpected Death in Epilepsy (SUDEP). Dalam kondisi ini, pasien tidak meninggal akibat kecelakaan atau tenggelam. SUDEP bisa terjadi selama atau setelah pasien mengalami kejang. Tindak pencegahan SUDEP adalah pengobatan teratur, serta menghindari faktor risiko pemicu kejang.



Berikut beberapa kondisi yang bisa memicu kejang dikutip dari berbagai sumber.

1. Dipicu orgasme

Rangsangan kejang akibat orgasme terungkap dalam riset yang dilakukan Cigdem Ozkara dari Departments of Neurology, Istanbul University. Dalam riset berjudul Orgasm-induced Seizures: A Study of Six Patients yang dimuat di jurnal Epilepsia, faktor risiko tersebut ada meski sangat jarang. Pasien berisiko menyembunyikan kemungkinan risiko ini serta menghindari mengalami orgasme.

2. Paparan cahaya

Dikutip dari situs Epilepsi Foudnation, faktor risiko cahaya terjadi pada sekitar 3 persen jumlah kasus. Kejang yang dipicu sinar dengan intensitas atau pola tertentu biasa disebut photosensitive epilepsy. Kondisi ini sering ditemukan pada anak dan remaja, yang makin jarang seiring pertambahan usia. Beberapa sumber cahaya yang bisa memicu epilepsi adalah layar televisi atau komputer, video games atau siaran televisi, sinar matahari, dan lampu sirine. Tentunya sumber cahaya yang bisa memicu kejang akibat epilepsi berbeda pada tiap pasien.

3. Menstruasi

Faktor risiko ini biasa terjadi pada 50 persen wanita yang mengalami epilepsi dalam usia reproduksi aktif. Hal ini terkait dengan keseimbangan hormon yang terganggu menjelang siklus menstruasi bulanan. Epilepsi dengan kejang yang terjadi selama siklus menstruasi disebut catamenial epilepsy. Riset membuktikan, kejang paling sering terjadi seminggu sebelum menstruasi atau pertengahan masa ovulasi.

4. Lupa minum obat

Lupa sesekali mungkin tidak langsung memicu kejang, namun mengakibatkan peningkatan risiko. Lupa minum obat adalah faktor risiko paling umum yang mengakibatkan kejang pada pasien epilepsi. Kondisi ini bisa mengakibatkan kejang dengan frekuensi yang lebih tinggi dibanding kondisi normal, lebih intens, atau lebih lama yang disebut status epilepticus. Lupa minum obat juga meningkatkan risiko jatuh atau kecelakaan pada penderita epilepsi.

5. Kurang tidur

Kurang tidur ternyata bisa memicu kejang pada pasien epilepsi. Dalam beberapa kasus, pasien melaporkan kejang pertama dan satu-satunya setelah mengerjakan tugas semalam suntuk. Kejang juga terjadi saat pasien tidak bisa tidur selama beberapa lama. Pasien epilepsi sangat disarankan cukup tidur, untuk mencegah munculnya kejang dengan intesitas lebih tinggi dan lama.

(up/up)