Jumat, 29 Mar 2019 12:40 WIB

Tak Boleh Pakai Kekerasan, Bagaimana Cara Tepat 'Menghukum' Kesalahan Anak?

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Lokasi pengusiran anak SD oleh ibunya yang viral di medsos (Foto: Muhammad Aminudin) Lokasi 'pengusiran' anak SD oleh ibunya yang viral di medsos (Foto: Muhammad Aminudin)
Jakarta - Viralnya video seorang ibu di Malang mendorong anaknya keluar dari mobil menuai banyak kritik dan sorotan. Sang ibu mengaku khilaf dan menyesal telah emosi pada anaknya lantaran ia menolak les karena tidak dibawakan baju ganti.

Saat emosi tak terbendung karena perilaku anak, kadang orang tua melakukan beragam hal untuk 'menghukum' anak sebagai upaya mendisplinkan mereka. Namun menurut Fajriari Maesyaroh, psikolog dari Yayasan Sahabatku bukan hukuman yang tepat dan mendidik apabila disertai pengabaian, baik fisik maupun verbal.

Kepada detikHealth, ia menjelaskan bahwa hukuman itu ada aturannya. Menyoal video yang viral, ia mengatakan memang terlihat adanya kekerasan fisik dan gerakan pengabaian dari sang ibu.



"Kita tidak tahu ya apa yang ibu itu katakan kepada sang anak, karena memang tidak ada suaranya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan anak itu. Saat ia menggenggam tangan ibunya, ibunya malah mendorong. Diabaikan untuk seorang anak itu terkadang lebih sakit daripada dihukum fisik," tutur wanita yang akrab disapa Fajri ini.

Fajri menganjurkan kepada para orang tua, baik ibu maupun ayah, jika memang ingin 'menghukum' anak, lebih baik dilakukan dengan 'mencabut' apa yang diinginkan atau yang disenangi oleh anak.

"Kalau misalnya ia senangnya nonton TV, maka jam nonton TV-nya ditiadakan. Atau dia mendapat konsekuensi dari perilaku yang tidak sesuai harapan orang tua, misal konsekuensinya mendapat tambahan tugas. Jangan pengabaian, atau bahkan kekerasan fisik hingga verbal, karena bisa menimbulkan efek trauma tersendiri bagi anak," tandas Fajri.

Punya tips memberikan 'hukuman' yang sehat untuk anak yang melakukan kesalahan? Bagikan di komentar.



(frp/up)