Senin, 01 Apr 2019 13:15 WIB

Modifikasi Terapi Imun, Harapan Baru Penyintas Kanker

Rosmha Widiyani - detikHealth
Para ilmuwan terus mengembangkan terapi yang paling manjur untuk kanker (Ilustrasi: iStock) Para ilmuwan terus mengembangkan terapi yang paling manjur untuk kanker (Ilustrasi: iStock)
Jakarta - Para peneliti melaporkan perkembangan terbaru terapi pengobatan kanker stadium lanjut. Terapi yang memodifikasi daya tahan tubuh penyintas ini ditujukan bagi kanker padat, misal paru dan payudara. Terapi ini telah menyelesaikan uji coba klinis tahap pertama.

"Terapi dengan pendekatan sistem imun adalah yang pertama didinia. Pengobatan yang disebut CAR T ini seperti senjata yang menyerang target dengan ketepatan tinggi tanpa efek samping bagi penyintas," kata pimpinan studi dan kepala bidang operasi toraks Memorial Sloan Kettering Prasad Adusumilli.

baca juga

Dikutip dari Daily Mail, hasil riset ini telah dipresentasikan pada American Association of Cancer Research. Terapi imun yang menggunakan sel T sebelumnya hanya menunjukkan keberhasilan pada penderita kanker darah. Terapi yang menginspirasi pengobatan CAR T ini mengantar penemunya James Allison mendapat Nobel.

Menurut Adusumilli, CAR T berbasis sel T yang merupakan salah satu tipe sel daya tahan tubuh (immunity cell). Peneliti sebelumnya telah mempelajari perbedaan sel kanker padat dan cair, serta kelemahan terapi imun yang sudah ada. Hasilnya kanker jenis tertentu misal payudara, paru, ovarium, pankreas, perut, usus besar dan mesothelioma memiliki protein yang disebut mesothelin.

Sel T pada tubuh manusia tidak diprogram untuk memerangi protein yang terdapat pada permukaan sel tersebut. Peneliti juga menemukan, sel T umumnya nyangkit di organ lain, misal paru selama beberapa hari, sehingga tidak bisa menuju sel kanker yang harus diperangi. Dengan hasil tersebut, tim riset melakukan modifikasi pada sel T yang bekerja sama dengan radiologis.



Adumisili mengatakan, modifikasi memungkinkan sel T bisa memerangi protein mesothelin. Sel T hasil modifikasi tersebut kemudian dimasukkan kembali dalam tubuh penyintas kanker. Tim riset menggunakan pemandu image dan prosedur invasif dengan dampak minimal yang memungkinkan sel T 'mendarat' tepat di permukaan sel kanker.

Dengan sel yang berasal dari tubuh sendiri, pasien biasanya tidak menolak sel T dan tak perlu mengonsumsi penekan daya tahan tubuh (immunosupresan). Terapi ini memang masih perlu dikembangkan lebih jauh, namun dengan hasil yang positif periset yakin pengobatan ini bisa menjadi harapan penyintas kanker.

(up/up)