Rabu, 10 Apr 2019 17:10 WIB

Gejala Obesitas pada Anak, Nggak Perlu Nunggu Umur 2 Tahun

Roshma Widiyani - detikHealth
Untuk mengetahui obesitas kini tidak perlu tunggu anak berusia dua tahun. Foto: iStock Untuk mengetahui obesitas kini tidak perlu tunggu anak berusia dua tahun. Foto: iStock
Jakarta - Penentuan diagnosa obesitas kini tak lagi menggunakan standar usia 2 tahun. Ahli metabolisme anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) Dr dr Aman B Pulungan SpA (K) mengatakan, kini obesitas bisa dideteksi kapan saja.

"Sesuai ketetapan Badan Kesehatan Dunia WHO, sekarang obesitas tak lagi nunggu anak 2 tahun. Anak yang obesitas punya kemungkinan mengalami diabetes dalam waktu dekat atau hingga beberapa tahun mendatang," kata dr Aman pada seminar Info Sehat FKUI untuk Anda, Rabu (10/4/2019).


Sama seperti dewasa, obesitas pada anak merupakan efek dari gula dan karbohidrat yang berlebihan. Efek ini terjadi saat anak sudah lepas Air Susu Ibu (ASI) dan mulai mengenal berbagai jenis asupan. Makanan dengan kandungan gula tinggi berisiko menyebabkan kegemukan hingga menjadi obesitas.

Salah satu penanda obesitas adalah body mass index (BMI) atau yang biasa disebut Indeks Massa Tubuh (IMT). Hasil pengukuran kemudian diplot pada kurva yang diterbitkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2000 atau WHO tahun 2006. IMT pada anak yang mengalami obesitas mencapai lebih dari 95 persen.

Semakin mudanya usia yang mengalami obesitas, sejalan dengan makin kecilnya umur anak yang mengidap diabetes. Menurut dr Aman, saat ini diabetes tipe 2 sudah ditemukan pada usia 7-8 tahun di Indonesia. Sementara diabetes tipe 1 mulai ditemukan sejak usia bayi. Diabetes tipe 1 disebabkan kerusakan pankreas sehingga tak bisa memproduksi insulin, sedangkan tipe 2 diakibatkan ketidacukupan produksi insulin karena adanya resistensi.

(ask/ask)
News Feed