Senin, 15 Apr 2019 07:45 WIB

Saat Diare, Kapan Sebaiknya Mengunjungi Dokter?

Widiya Wiyanti - detikHealth
Jangan remehkan diare yang berkepanjangan. (Foto: Thinkstock) Jangan remehkan diare yang berkepanjangan. (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Saat frekuensi buang air besar (BAB) lebih dari biasanya dan feses yang keluar cenderung cair, sudah dipastikan itu diare. Diare membuat tubuh lemas, sangat tidak nyaman bukan?

Kebanyakan orang pasti langsung mengonsumsi obat penghenti diare atau obat golongan loperamide. Padahal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak merekomendasikan obat penghenti diare karena berisiko menyebabkan dehidrasi dan berbahaya.

Menurut Dokter Umum dan Kepala Unit Emergency RS Pondok Indah, dr Felix Samuel, MKes, diare yang diakibatkan oleh virus akan sembuh dengan sendirinya dan tidak membutuhkan antibiotik.

Namun, diare tidak boleh diabaikan lho. Kapan sebaiknya mengunjungi dokter saat mengalami diare?


"Kalau diaere disertai penyulut, muntah-muntah, kalau minum saja bisa muntah. Kalau sudah mulai demam tinggi hampir dipastikan karena infeksi ya harus ke dokter," ujarnya saat ditemui di kawasan Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Diare yang disebabkan oleh virus atau bakteri sangat sulit dibedakan. dr Felix mengatakan, diare yang disebabkan oleh bakteri frekuensi BAB akan lebih sering dibandingkan karena virus.

"Kalau karena bakteri ada keluhan dari perutnya keram. kalau mau memastikan tetap harus ke dokter pemeriksaan feses," imbuhnya.

dr Felix juga menyarankan untuk mengonsumsi air dalam jumlah yang cukup agar tubuh tidak mengalami dehidrasi dan tetap mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang.



Simak Juga 'Atasi Diare Pertama dengan Buat Cairan Oralit Sendiri!':

[Gambas:Video 20detik]

Saat Diare, Kapan Sebaiknya Mengunjungi Dokter?
(wdw/up)