Minggu, 21 Apr 2019 13:00 WIB

Terapi Cedera Tulang, Pilih ke Dokter Tulang atau ke Dukun?

Roshma Widiyani - detikHealth
Patah tulang ke dukun apa dokter ya? Foto: iStock Patah tulang ke dukun apa dokter ya? Foto: iStock
Jakarta - Kemajuan teknologi kedokteran tak membuat pengobatan alternatif kehilangan tempat, salah satunya metode sangkal putung untuk kasus patah tulang. Metode penyembuhan berbagai kasus cedera tulang tanpa operasi ini kerap menjadi pilihan masyarakat daripada medis.

Guru Besar Bidang Ilmu Orthopaedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Ismail Hadisoebroto Dilego tak menampik kecenderungan tersebut. Cedera tulang sebetulnya tak selalu ditangani dengan operasi, terutama pada kasus baru yang belum mendapat penanganan sebelumnya.

"Patah tulang nggak harus operasi karena kita punya sekitar 9 modalitas penanganan cedera. Operasi jadi pilihan pada kasus yang sempat mengalami salah penanganan, misal sempat ke dukun tulang tapi belum sembuh. Kasus cedera tulang termasuk patah bersifat patologis sehingga harusnya medis jadi pilihan utama," kata Ismail dalam pengukuhan Guru Besarnya.


Selain menjanjikan tidak operasi, dukun tulang masih jadi pilihan karena masih adanya perbedaan persepsi sembuh di masyarakat. Sembuh kerap diartikan tidak sakit, tulang yang patah kembali tersambung, tanpa mempertimbangkan fungsi. Padahal menurut Prof Ismail, sembuh berarti organ bisa berfungsi seperti semula, misal kembali bisa jalan dan lari tanpa keluhan.

Masyarakat biasanya protes dan baru ke rumah sakit saat organ yang cedera tak berfungsi seperti semula. Dalam beberapa kasus, hasil pengobatan alternatif mengakibatkan tulang terlihat bengkok bukan lurus seperti semula. Menurut Prof Ismail, kondisi tersebut menandakan tulang tidak berfungsi seperti semula yang berarti belum sembuh dari cedera.

"Kita di Rumah Sakit Cipto Mangkusumo (RSCM) sering sekali menangani pasien dari dukun tulang. Mereka datang ke sini setelah mengalami gagal sambung atau non union, atau berhasil tapi posisinya salah yang disebut mal union. Terapi medis memastikan tulang kembali tersambung dalam posisi semula sehingga bisa berfungsi seperti biasa," kata Prof Ismail.

Dukun yang biasanya menggunakan ilmu turun temurun tidak dilalui screening dan stratifikasi luka sebelum penangan. Akibatnya penanganan patah tulang dan dislokasi sendi kerap gagal, apalagi pada kasus yang menggabungkan 2 cedera tersebut. Prof Ismail kembali berpesan konsultasi ke dokter terlebih dulu bila mengalami cedera tulang karena belum tentu operasi dan menekan risiko kegagalan penanganan.

(up/up)