Senin, 29 Apr 2019 19:24 WIB

Hindari 8 Mitos Berikut Jika Ingin Tidur Nyenyak Malam Ini

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi tidur nyenyak dengan menghindari mitos-mitos. Foto: Thinkstock Ilustrasi tidur nyenyak dengan menghindari mitos-mitos. Foto: Thinkstock
Jakarta - Sepertiga hidup manusia dihabiskan untuk tidur dan tidur sangat terkait dengan kesehatan, mood, dan kesejahteraan diri. Kita semua tahu bahwa kekurangan tidur bisa menyebabkan penurunan performa di keesokan harinya dan juga berisiko menimbulkan masalah kesehatan serius, mulai dari serangan jantung hingga kematian dini.

Dalam sebuah studi baru, peneliti menunjukkan mitos-mitos yang umum kita dengar soal tidur bisa menyebabkan kebiasaan yang tidak sehat. Kualitas tidur menentukan hasil yang negatif atau positif pada kesehatan kita.

Para peneliti berharap dengan mengetahui mitos-mitos seputar tidur dapat menjadikan kebiasaan tidur seseorang lebih baik dan meningkatkan kesehatan mereka. Berikut adalah 8 di antaranya:



1. Mitos: Orang dewasa hanya butuh lima jam tidur
Para peneliti menyebut mitos ini adalah yang paling merusak kesehatan. Dewasa ini, kurang tidur dan begadang menjadi salah satu kebiasaan, namun sudah jelas dua hal ini tak ada dampak baiknya bagi kesehatan. Kurang tidur bisa berdampak pada jantung (risiko serangan jantung dan hipertensi meningkat) dan juga pikiran (penuruanan fungsi kognitif dan risiko depresi meningkat). Risiko diabetes dan obesitas juga meningkat. Disarankan bagi orang dewasa untuk tidur antara 7-9 jam per hari.

2. Mitos: Menonton TV jadi cara rileks yang baik sebelum tidur
Menghindari segala bentuk layar digital, salah satunya televisi, adalah upaya sleep hygiene untuk mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik. Sinar biru yang dipancarkan oleh layar gadget bisa berdampak negatif pada tidur dan juga kesehatan. Hindari segala macam gadget selama setidaknya satu jam sebelum tidur.

3. Mitos: Tak peduli kapanpun tidur, kita tetap sehat
Tubuh kita cenderung mengikuti ritme natural kapan bangun dan tidur sesuai dengan tenggelam dan terbitnya matahari. Akan tetapi, hal ini bisa dikacaukan karena beberapa hal, seperti pekerjaan (bekerja dengan jadwal shift), keluarga dan kehidupan sosial. Hal ini tentu tidak baik untuk kesehatan, seperti peningkatan risiko depresi dan diabetes.

4. Mitos: Rebahan dan memejamkan mata sama baiknya seperti tidur
Hanya merebahkan diri dan memejamkan mata tidak sama baiknya seperti tidur. Segala macam yang berada di tubuhmu mulai dari otak hingga paru-paru berfungsi secara berbeda saat tidur. 'Tidur-tidur ayam' tidak akan membuat kesehatanmu lebih baik, guys!



5. Mitos: 'Pelor' berarti punya sistem tidur yang sehat
'Pelor' atau nempel langsung molor merupakan julukan bagi orang yang mudah tertidur di mana saja dan kapan saja. Dianggap berbakat, banyak yang menganggap orang yang 'pelor' memiliki sistem tidur yang sehat karena mudah tertidur, namun sebenarnya bisa jadi itu tanda mereka kekurangan tidur.

6. Mitos: Alkohol sebelum tidur bikin nyenyak
Sama seperti kafein, meminum alkohol sebelum tidur tidak akan membuat kualitas tidurmu menjadi lebih baik. Malahan yang ada bisa membuatmu merasa buruk keesokan harinya. Jangan jadikan hal ini kebiasaan karena bisa juga membahayakan kesehatanmu, seperti meningkatnya gangguan tidur (sleep apnea) atau bahkan lebih buruk lagi.

7. Mitos: Kurang tidur atau tidak otak bekerja sama baiknya
Ada kepercayaan jika kita berusaha lebih keras untuk 'menutupi' kekurangan tidur, kita sebenarnya bisa berfungsi sebagaimana mestinya, termasuk kerja otak. Misalnya seperti beradaptasi dengan waktu, meminum segelas kopi lagi dan kamu akan sanggup melewati hari saat kamu kurang tidur. Big No! Kekurangan waktu tidur kronis atau setara dengan lima jam atau kurang malah membuatmu semakin sulit untuk konsentrasi.

8. Mitos: Ngorok berarti tidur yang nyenyak dan pulas
Menjadi mitos yang paling sering kita dengar, namun ngorok atau mendengkur sama sekali bukan tanda yang baik. Ngorok menjadi salah satu gejala sleep apnea atau gangguan tidur yang paling umum ditemui. Sleep apnea menyebabkan henti napas sesekali saat tidur, bisa berisiko merusak jantung dan kualitas tidur. Orang-orang yang mengalami kegemukan dan obesitas, hipertensi dan perokok berat memiliki risiko tinggi terkena sleep apnea.

(frp/up)
News Feed