Selasa, 07 Mei 2019 10:58 WIB

Mohamed Salah Gegar Otak, Apa Risiko Terburuknya?

Firdaus Anwar - detikHealth
Mohamed Salah menerima penanganan medis saat bertanding melawan Newcastle United. (Foto: Shaun Botterill/Getty Images) Mohamed Salah menerima penanganan medis saat bertanding melawan Newcastle United. (Foto: Shaun Botterill/Getty Images)
Jakarta - Penyerang Liverpool Mohamed Salah mengalami cedera gegar otak ketika bertanding melawan Newcastle United pada akhir pekan lalu. Kabar terakhir menyebut bahwa Salah dipastikan absen pada pertandingan berikutnya melawan Barcelona akibat gegar otak.

"Mo mengalami gegar [otak]. Itu berarti dia tidak dapat dimainkan. Dia merasa baik-baik saja tetapi jika dilihat dari sisi medis itu tidak cukup," kata Manajer Liverpool Juergen Klopp seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (7/5/2019).


Ahli saraf Prof dr Teguh Ranakusuma, SpS(K), dari Departemen Neurologi Fakutas Kedokteran Universitas Indonesia mengibaratkan gegar otak layaknya hang pada komputer. Saat kepala terbentur, aktivitas kelistrikan yang ada di otak bisa mengalami kekacauan.

"Itu kan listrik semua. Ada benturan, network-nya kacau, tiba-tiba terhenti, hang, kayak komputer itu," kata Prof Teguh beberapa waktu lalu.

Itulah sebabnya mereka yang mengalami gegar otak selalu ditandai dengan kehilangan kesadaran dikarenakan adanya 'gangguan jaringan' pada otak.

Pada kasus gegar otak ringan pasien bisa pulih sendiri, sedangkan pada gegar otak sedang ada yang bisa pulih lagi dan ada yang tidak. Gejalanya mulai dari tidak sadarkan diri, mual, muntah, pingsan, sakit kepala hebat, hingga kelumpuhan sebagian.

Nah pada kasus gegar otak yang berat bukan tidak mungkin seseorang bisa sampai koma atau bila siuman mengalami hilang ingatan.

"Tapi kalau sudah berat, ya bisa sampai hilang ingatan," pungkas Prof Teguh.

(fds/up)