Kamis, 16 Mei 2019 19:15 WIB

Pertama di Dunia, Miss V Transgender Direkonstruksi dengan Kulit Ikan Nila

Widiya Wiyanti - detikHealth
Dokter menggunakan kulit nila untuk rekonstruksi Miss V (Foto: thinkstock) Dokter menggunakan kulit nila untuk rekonstruksi Miss V (Foto: thinkstock)
Jakarta - Seorang wanita transgender di Brasil, sebut saja Maju telah menjalani operasi rekonstruksi vagina dari kulit ikan nila. Operasi ini dilakukan untuk pertama kali di dunia pada transgender.

Dikutip dari Mirror, Maju yang berusia 35 tahun itu pernah menjalani operasi penggantian kelamin pada tahun 1999 namun berakhir gagal. Vaginanya mulai menyusut dan menutup.

"Tapi sepuluh tahun yang lalu saya mengalami stenosis vagina. Pembukaan vagina saya mulai menjadi lebih sempit dan lebih pendek," ujarnya.

Maju merasa tidak nyaman terus-terusan dan mencegah untuk berhubungan seksual selama 12 tahun. Ia pun kembali ke rumah ibunya di Sao Paulo.

Tetapi Maju mengetahui prosedur yang dilakukan seorang profesor ginekologi, Prof Leonardo Bezerra dari Universitas Federal Ceara (UFC) di Fortaleza. Prosedur tersebut belum pernah terjadi sebelumnya dalam menciptakan vagina baru untuk wanita yang terkena agenesis vagina.

Maju pun menjalani prosedur yang disebut neovaginoplasty itu. Proses rekonstruksi melibatkan dua cetakan berbentuk tabung dari kulit ikan nila untuk membuat vagina baru. Cetakan pertama dipasang dengan membran dan dimasukkan ke dalam vagina selama enam hari.



Dalam kontak dengan tubuh pasien, kulit ikan akan disterilkan dan dihilangkan baunya. Kulit ikan kaya akan kolagen tiper 1, yaitu suatu zat yang meningkatkan penyembuhan dan kekencangan serta elastisitas yang cukup kuat seperti kulit manusia.

Selaput ikan nila ditempel dan melapisis ulang dinding saluran vagina. Selaput itu akan berubah menjadi jaringan seluler yang mirip dengan vagina sebenarnya.

Cetakan kedua terbuat dari silikon dan dibentuk seperti tampon besar yang dirancang untuk berada di dalam vagina hingga enam bulan untuk mencegah dinding vagina menutup.

"Kami dapat membuat vagina dengan panjang fisiologis, baik dalam ketebalan maupun dengan memperbesarnya, dan pasien telah pulih dengan sangat baik," kata Prof Bezerra kepada FocusOn News.

Proses ini sedang dipuji sebagai terobosan dalam pembedahan ginekologi dengan menggunakan kulit hewan akuatik yang biasanya dibuang sebagai limbah.

Tiga minggu setelah perawatan, Maju merasa seperti menjadi wanita sejati. "Saya benar-benar senang dengan hasilnya," imbuh Maju.

"Dia (Maju) berjalan dengan mudah, tidak sakit dan kencing normal. Dalam beberapa bulan kami percaya dia akan bisa melakukan hubungan seksual," tandas Prof Bezerra.

(wdw/up)
News Feed