Selasa, 21 Mei 2019 11:42 WIB

Goodbye Cebong-Kampret! Ini Kata Mereka yang Ingin Damai Usai Pemilu

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Say goodbye untuk panggilan Cebong-Kampret, yuk kembali damai Indonesia! Foto: Rengga Sancaya Say goodbye untuk panggilan 'Cebong-Kampret', yuk kembali damai Indonesia! Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Sudah lewat pemilu, masih ada saja teman kamu yang panggil dengan sebutan cebong-kampret? Atau masih saja perang komentar di media sosial?

Hmm coba direnungkan lagi, mau sampai kapan bertengkar terus yang tiada berujung. Kepada detikHealth, sejumlah orang 'curhat' mengenai pendapat mereka tentang persatuan dua kubu.

"Harusnya bisa dihapus (penggunakan kata cebong-kampret --red), karena ya sudah usai pemilu. Kan harusnya kita sama-sama lagi, ya nggak ada kubu-kubuan. Tapi kayaknya nggak bisa sih terhapus gitu aja deh panggilan itu," Debby Andini (22), seorang content writer.

Meski sudah telanjur ada panggilan cebong dan kampret, Debby mengharapkan panggilan tersebut tidak membuat kita menjadi terkotak-kotak. Ia pun menyarankan agar dua tokoh panutan, Jokowi dan Prabowo bisa mempersatukan kedua kubu usai pemilu.

"Massa sebanyak itu pasti ngikutin pemimpinnya. Makanya, berdoa aja, semoga elite politik itu bukannya memperkeruh tapi ada inisiatif buat nyatuin," ujarnya.

Debby mengatakan momen ini sebenarnya bukan tidak mungkin, bahkan terbukti pernah terjadi saat momen Asian Games kemarin.

"Kan asik. Ya pokoknya menunjukkan kehangatan gitu, rakyat juga jadi adem, kayak yang momen Asian Game itu," tambah Debby.


Sementara itu, ada Tripa Ramadhan (25), salah satu karyawan swasta di Jakarta Selatan yang membagikan pendapatnya. Dengan tegas ia mengatakan istilah cebong-kampret bukanlah hal yang penting.

"Ini nggak penting tuh cebong kampret, lagian nggak jelas asal muasalnya dari mana. Pilpres juga udah lewat, seharusnya tidak ada istilah ini lagi. Apalagi di momen Ramadhan ini seharusnya berlomba-lomba dalam kebaikan dan perbaiki ibadah," kata Tripa. Waduh, cakep!

Tripa juga menyebutkan seharusnya kita bisa mencontoh para petinggi yang meski 'bersaing' dalam momen politik tapi tetap bisa bersahabat.

"Sebenarnya masalahnya bukan pada petingginya, tapi kita ini di bawahnya. Banyaklah contoh pemimpin yang bersahabat, kenapa kita mempermasalahkan? Toh mereka kan usai ini kembali menjalankan rutinitas seperti biasa sementara kita kalau sudah terlanjur berseteru dengan perdebatan yang tiada akhir tidak dapat apa-apa, yang ada hanya pertemanan yang retak karena politik sesaat," tandas Tripa.


Bagaimana mana denganmu? Seperti apa pandangan kamu soal persatuan antara pendukung Jokowi dan Prabowo, setuju kan nggak ada sebutan cebong-kampret lagi? (ask/up)
News Feed