Selasa, 21 Mei 2019 17:56 WIB

Kelas Konseling Khusus yang Sedih Soal Final 'Game of Thrones', Minat?

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Salah satu adegan Game of Thrones yang menyayat hati para penggemar. Foto: Dok. Ist Salah satu adegan Game of Thrones yang menyayat hati para penggemar. Foto: Dok. Ist
Jakarta - Banyak penggemar serial Game of Thrones mengaku merasa sedih dan kecewa usai menonton episode final pada Senin (20/5) lalu. Beberapa bahkan menganalogikan berakhirnya serial Game of Thrones bagaikan kehilangan orang yang tersayang.

Saking merasa sedihnya, tak sedikit pula yang mengungkapkan perasaan tersebut di media sosial. Seakan dunia harus tahu bahwa mereka sedang mengalami kesedihan mendalam.

"Sangat hancur (karena) Game of Thrones sudah selesai. Rasanya kayak kehilangan tangan dan kaki. #TheFinalEpisode," cuit akun @ja**kc*all.

"Bisakah kita membuat grup terapi bagi mereka yang menonton game of thrones?" imbuh @A***musa**_.


Oleh karena itu, sebuah jejaring sosial di Inggris bernama Bark.com menawarkan program 'layanan konseling spesial Game of Thrones'. Program ini menjanjikan membantu para penggemar GoT mendapatkan bantuan yang sesuai dengan apa yang mereka alami dan membantu mereka melalui masa-masa sulit ini.

"Para penggemar bisa mem-booking konselor yang terkualifikasi dalam sesi setengah hingga satu jam. Profesional ini akan membantu penonton untuk lebih mengenali perasaan mereka dan 'menelan' interpretasi akan acara tersebut, yang bisa beragam dari marah dan bingung hingga sedih dan kehilangan," demikian dilaporkan situs Fox News.

Kantiana Taslim, MPsi, Psikolog Klinis di Personal Growth menyebutkan jika film tersebut sangat mengena, sangat dihayati, dan dekat dengan kehidupan orang tersebut, lebih besar kemungkinannya ia akan merasa sedih, hampa, dan kesal ketika film tersebut berakhir. Apalagi bila ditambah dengan ekspektasi atau harapan tertentu yang telah dimiliki dan dibayangkan olehnya.

"Hal tersebut membuat perasaan-perasaan sedih, hampa, marah, kecewa menjadi lebih rentan muncul. Selain itu, mungkin juga ada faktor biologis yang berperan. Seperti efek withdrawn dari orang dengan kecanduan. Perasaan yang menjadi lebih buruk, lebih menginginkan hal tersebut ketika hal itu sudah tidak ada sehingga stress hormon yang muncul fungsinya menjadi terganggu," tandasnya, mengutip psikolog Eilleen Kennedy-Moore. (frp/up)
News Feed