Rabu, 22 Mei 2019 08:30 WIB

Rusuh di Tanah Abang, Terbuat dari Apa Sih Gas Air Mata?

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Gas air mata yang ditembakkan. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja Gas air mata yang ditembakkan. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Jakarta - Pada waktu menjelang sahur, terjadi kericuhan di sekitar kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Hal ini merupakan buntut dari massa yang memaksa bergerak ke Jalan Wahid Hasyim.

Ini pun menimbulkan perang gas air mata dan petasan antara petugas dan juga massa.

Dikutip dari ThoughtCo, gas air mata atau agen lachrymatory, mengacu pada salah satu dari sejumlah senyawa kimia yang menyebabkan air mata dan rasa sakit pada mata. Terkadang ini bisa juga menimbulkan efek kebutaan sementara. Gas air mata dapat digunakan untuk pertahanan diri, tetapi lebih sering digunakan sebagai agen mengontrol kerusuhan.


Cara kerja dari gas air mata sendiri adalah mengiritasi selaput lendir mata, hidung, mulut, dan paru-paru. Iritasi dapat disebabkan oleh reaksi kimia dengan kelompok enzim sulfhidril, meskipun mekanisme lain juga terjadi.

Gas air mata umumnya tidak mematikan, tetapi beberapa agen beracun. Biasanya, efek akan mulai timbul sekitar 30 detik setelah terpapar gas. Gejala yang timbul bisa berupa sensasi panas terbakar di mata, produksi air mata berlebihan, penglihatan kabur, kesulitan bernapas, nyeri dada, batukk, atau bersin.

Sebagian besar senyawa yang digunakan sebagai agen air mata adalah padatan di suhu kamar, dan sebenarnya biasanya gas air mata tidak benar-benar berupa gas yang terdiri dari satu bahan kimia spesifik saja. Ada sejumlah senyawa yang berbeda yang digunakan dalam benda ini bercampur dengan agen pelarut (cairan atau gas) dan dirancang untuk mengaktifkan saraf-saraf sensorik.

Ada berbagai jenis senyawa yang dapat digunakan sebagai gas air mata, misalnya CS (chlorobenzylidenemalononitrile), CR, CN (chloroacetophenone), bromoacetone, phenacyl bromide, atau semprotan merica.

(ask/up)
News Feed