Rabu, 22 Mei 2019 15:48 WIB

Agar Tak Terprovokasi Konten Ujaran Kebencian, Psikolog Sarankan Kontrol Emosi

Widiya Wiyanti - detikHealth
Aksi kerusuhan di Tanah Abang. Foto: Ari Saputra Aksi kerusuhan di Tanah Abang. Foto: Ari Saputra
Jakarta - Pasca pengumuman hasil Pemilu 2019, aksi 22 Mei menjadi rusuh hingga menyebabkan bentrok antara massa dan polisi. Bukan hanya itu, sebaran konten aksi kekerasan dan ujaran kebencian pun marak beredar di media sosial (medsos).

Kementerian Kominfo RI mengimbau untuk segera menghapus dan tidak menyebarluaskan atau memviralkan konten baik dalam bentuk foto, gambar, atau video korban aksi kekerasan di media apapun.

Layanan medsos pun untuk sementara waktu dibatasi penggunaannya, terutama pada layanan messaging seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram guna mempersempit pengiriman gambar dan video.



Kepada detikHealth, psikolog dari Personal Growth Talissa Carmelia M.Psi pernah menyoroti soal hal ini. Ia menyarankan agar masyarakat tidak mudah percaya dengan informasi yang diterima di medsos sebelum memeriksa dengan benar kebenarannya.

Bukan tidak mungkin, informasi yang tersebar di medsos itu bisa menyebabkan emosi seseorang meningkat. Dan karena tidak bisa mengelola emosi dengan baik akhirnya mudah terprovokasi.

"Anda perlu mencerna dan mengatur pengelolaan emosi yang Anda rasakan ketika mendapatkan informasi yang tidak menyenangkan. Jangan langsung mengungkapkan atau terbawa emosi. Coba tenangkan diri Anda sebelum bertindak atau mengucapkan hal yang buruk. Anda bisa mengalihkan perhatian anda dengan kegiatan yang menyenangkan," saran Talisaa.

Jika karena melihat foto, gambar, atau video yang tidak menyenangkan bisa membuat emosi, marah, dan tidak bisa mengontrolnya, Talissa sarankan untuk melakukan latihan pernapasan atau relaksasi sederhana.

"Lakukan selama 5-10 menit supaya dapat membantu merasa tenang kembali," tandasnya.

(wdw/up)
News Feed