Kamis, 23 Mei 2019 08:48 WIB

Pekerja di Jakarta Keluhkan Mata Perih, Berapa Lama Efek Gas Air Mata?

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Pekerja di Kawasan MH Thamrin mengeluhkan mata perih efek sisa gas air mata (Foto: Lamhot Aritonang) Pekerja di Kawasan MH Thamrin mengeluhkan mata perih efek sisa gas air mata (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta - Usai ricuh Jakarta, pekerja kembali beraktivitas seperti biasa. Mereka pun memakai sapu tangan karena merasakan mata yang perih di daerah tersebut. Dalam Live Report 20detik, seorang pekerja yang berkantor di Kawasan MH Thamrin juga melaporkan mengalami mata perih saat berada di jalanan.

"Kemarin kerja setengah hari, suasana sih kita lihat sudah kondusif... (mengapa pakai sapu tangan) soalnya debu, sama agak perih mata, mata masih perih," ungkap Cahyadi.

Mengenai efek gas air mata, komponen pembentuknya bisa bermacam-macam. Efek bertahannya pun juga bergantung dari zat yang digunakan.

Sven-Eric Jordt, ahli anestesi di Universitas Duke telah mempelajari gas air mata selama lebih dari satu dekade, ia pun menjelaskan kalau gas air mata sendiri sebenarnya bukan gas. Ini adalah bubuk yang mengembang ke udara sebagai kabut halus.

"Saya menganggap gas air mata sebagai gas rasa sakit, karena secara langsung mengaktifkan reseptor rasa sakit," kata Jordt.


Polisi menembakkan gas air mata untuk menghalau massa yang beringas di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat.Polisi menembakkan gas air mata untuk menghalau massa yang beringas di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat. Foto: Agung Pambudhy


Secara khusus, semua agen gas air mata mengaktifkan salah satu dari dua reseptor rasa sakit, TRPA1 atau TRPV1, dan dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori besar berdasarkan yang mana dari reseptor yang mereka aktifkan.

Kategori pertama, agen pengaktif TRPA1, termasuk bahan kimia yang disebut 2-chlorobenzalmalonitrile atau gas CS. Agen ini adalah senyawa yang mengandung klor yang bertiup ke udara sebagai partikel halus.

"Mereka sebenarnya tersebar dengan membakar serta menempel pada kulit atau pakaian dan dapat bertahan untuk sementara waktu," ujar Jordt. Agen ini bereaksi secara kimia dengan biomolekul dan protein pada tubuh manusia yang mana dapat menyebabkan sensasi terbakar teramat sangat.



Gas CS adalah yang paling umum dari agen pengaktif TRPA1 ini, tetapi, baru-baru ini, banyak aparat penegak hukum yang telah mulai menggunakan senyawa yang lebih baru, menurut penjelasan Rohini Haar, ilmuwan kesehatan masyarakat di University of California, Berkeley.

"Semakin banyak, ada versi tingkat yang lebih tinggi yang disebut CS2 atau kadang-kadang CX," ujarnya dikutip dari Scientific American.

"Mereka (mengandung silikon) sehingga dapat bertahan lebih lama di lingkungan dan tidak hancur dengan cepat." Hasilnya adalah gas air mata yang lebih berbahaya yang dapat terus mempengaruhi suatu daerah selama beberapa hari.

Ada dua agen pengaktif TRPA1 lain yang digunakan untuk pengendalian huru-hara: gas CR (dibenzoxazepine) dan gas CN (kloroasetofenon). Keduanya lebih kuat daripada gas CS menurut penjelasan Jordt.

[Gambas:Video 20detik]



(ask/up)