Kamis, 23 Mei 2019 09:44 WIB

Round Up

Soal Kepo dan 'Wisata Demo' Saat Ada Kerusuhan

Rosmha Widiyani - detikHealth
Rasa ingin tahu kadang mendorong seseorang mendekati kerusuhan, alih-alih mencari tempat aman (Foto: Ari Saputra) Rasa ingin tahu kadang mendorong seseorang mendekati kerusuhan, alih-alih mencari tempat aman (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Kerusuhan 22 Mei di Jakarta memakan sejumlah korban jiwa maupun luka. Walau membuat banyak orang ketakutan, peristiwa ini bagi sebagian orang lainnya juga memunculkan rasa penasaran.

Ketika melihat atau mendengar ada keributan di sekitar Tanah Abang dan Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, tak sedikit yang terpancing rasa ingin tahunya. Bukannya menyingkir cari aman, malah mendekat untuk melihat langsung peristiwa tersebut.

Perilaku 'kepo' semacam itu tentu membahayakan diri sendiri. Terlebih bila hanya untuk memenuhi kebutuhan narsis yakni selfie atau foto-foto dengan latar belakang massa demonstran, petugas keamanan yang sedang bertugas, atau peristiwa kerusuhan itu sendiri.

"Bagi yang kepo hingga tanpa sadar jadi dekat dengan wilayah yang berbahaya, sebaiknya berpikir ulang sebelum beraksi sekadar memenuhi rasa ingin tahu," saran dr Lahargo Kembaren, SpKJ, psikiater yang juga Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Marzoeki Mahdi.

"Kepo perlu disikapi dengan pemikiran yang lebih dewasa, hingga bisa memutuskan tindakan yang lebih baik," sebutnya.



Psikolog Kasandra Putranto menyebut, kepo adalah rasa ingin tahu yang kadang-kadang tidak diiringi pemahaman soal keamanan dan keselamatan. Bahkan kepatuhan dan kesadaran moral.

"Orang Indonesia memang agak unik. Dengan pemahaman keamanan dan keselamatan yang terbatas justru berada dekat dengan areal yang berbahaya," kata Kasandra.

Soal 'wisata demo' yang ditandai dengan tren foto-foto di lokasi kerusuhan, dr Lahargo juga punya pendapat. Ada faktor kejiwaan yang mendorong seseorang nekat menantang bahaya demi pamer di medsos.

"Dunia medis menyebutnya sebagai narcisstic need, yaitu saat eksistensi diri lebih penting dalam kehidupan sehari-hari. Keinginan eksis bisa saja mengalahkan rasa takut dan khawatir yang dirasakan dalam situasi berbahaya," sebutnya.

Menurut dr Lahargo, sebaiknya dipikirkan matang-matang risikonya. Like maupun comment di media sosial tak sebanding dengan risiko bahayanya, terlebih akses media sosial saat ini tengah dibatasi demi mempersempit ruang gerak penyebar hoax dan ujaran kebencian.

(up/up)