Kamis, 23 Mei 2019 15:23 WIB

Alasan Kamu Harus Mulai 'Diet' Kantong Plastik, Sudah Lakukan Belum?

Shania Thalib - detikHealth
Saatnya diet plastik ya, guys. Foto: Tas plastik di AS (Reuters) Saatnya 'diet plastik' ya, guys. Foto: Tas plastik di AS (Reuters)
Jakarta - Penggunaan plastik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, namun pengolahannya limbahnya yang tidak baik dapat menjadi timbunan sampah yang ternyata juga membahayakan kesehatan.

Permasalahan sampah plastik di Indonesia diperparah dengan kebiasaan masyarakat yang membuang sampah ke sungai sehingga akan menyebabkan pencemaran di sepanjang aliran sungai hingga akhirnya bermuara di laut. Haduh, nyebelin banget!

Banyaknya sampah plastik yang tidak terurai di laut bisa menjadi mikroplastik loh, dan khawatirnya terkonsumsi oleh hewan laut seperti ikan tuna, cakalang, kakap, tongkol,bandeng, yang nantinya akan di konsumsi oleh kita. Hal ini bisa membuat ikan yang lezat ini bisa tercemar, seperti dijelaskan oleh Dr dr Theresia Indrawati, M.Gizi yang praktik di Your Skin Beauty Clinic.

"Ada. Jadi itu cycle. Dari produk plastik yang tidak bisa hancur. Akhirnya ke laut. Tertimbun di dasar dan menghasilksn chemical lalu tercemar ke sumber makanan. Kita tidak bisa memilih mana bahan-bahan yang sudah atau tidak tercemar," tutur dr Theresia dalam mendukung gerakan #ByePlastic oleh mahasiswa Komunikasi UPN Veteran Jakarta.


Bahaya plastik ini bisa menyebabkan berbagai penyakit bahkan dr Theresia menyatakan jika terus menerus mengkonsumsi makanan yang tercemar mikro plastik dapat menyebabkan kanker, meskipun mekanisme kompensasinya yang harus dilalui oleh tubuh kita cukup banyak sebelum akhirnya kalah dengan 'mereka'

Pusat Penelitian Oseanografi - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) juga menemukan dominasi sampah plastik dan temuan mikroplastik dalam penelitiannya yang dipaparkan 2018 lalu.

Jenis sampah ditemukan dari 18 pantai di Indonesia untuk monitoring setiap bulan dalam pemantauan sampah terdampar dan 13 pesisir di Indonesia dijadikan area sampling mikroplastik di permukaan air. Serta delapan lokasi untuk mikroplastik di sedimen dan satu genus ikan (Stolephorus sp) dari 10 lokasi se-Indonesia.

Hasil monitoring pantai adalah kategori plastik dan karet, logam, kaca, kayu olahan, kain, dan lain-lain, serta bahan berbahaya. Sampah dominan berasal dari plastik di seluruh area kajian sebesar 36 sampai 38 persen.

(ask/ask)
News Feed
Breaking News
×
Sidang Sengketa Pilpres 2019
Sidang Sengketa Pilpres 2019 Selengkapnya