Jumat, 24 Mei 2019 12:25 WIB

Curhat Para Dokter karena Pembatasan WA Cs: Jadi Ada Hambatan

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Pembatasan sementara akses ke medsos dan layanan messaging seperti Whatsapp ternyata membuat tenaga kesehatan mengalami hambatan dalam melakukan pekerjaan. Foto: Justin Sullivan/Getty Images Pembatasan sementara akses ke medsos dan layanan messaging seperti Whatsapp ternyata membuat tenaga kesehatan mengalami hambatan dalam melakukan pekerjaan. Foto: Justin Sullivan/Getty Images
Jakarta - Pembatasan sementara akses ke medsos dan layanan messaging seperti Instagram, Facebook dan Whatsapp oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berlaku sejak Rabu (22/5). Banyak warganet yang teriak karena sulit mengirim atau mengunduh foto dan video. Tapi tidak hanya masyarakat umum saja.

Hal ini membuat tenaga kesehatan mengalami hambatan dalam melakukan pekerjaan. Kepada detikHealth, dokter spesialis jantung, dr Vito A. Damay, SpJP(K), MKes, FIHA, FICA, menuturkan betapa pentingnya Whatsapp untuk memberikan laporan perkembangan pasien.

"Jadi ada hambatan juga karena akses terbatas, apalagi bagi dokter spesialis jantung seperti saya dokter jaga laporan perkembangan pasien biasanya kirim foto EKG dan foto X-ray untuk minta advis," ujar dr Vito.


Ia pun menuturkan ada grup khusus dokter spesialis dalam tim untuk kasus-kasus yang dihadapi. Nah biasanya mereka saling menyertakan foto EKG pasien atau video hasil USG jantung. Dengan adanya pembatasan, dr Vito merasa ini membuat pekerjaannya jadi kurang optimal.

"Padahal di era digital sekarang ini rapat pun bisa terjadi melalui ponsel. Walaupun tidak sepenuhnya bisa menggantikan rapat konvensional yang semua pesertanya hadir secara fisik, namun dapat menghemat waktu pengambilan keputusan terkait medis untuk hal-hal tertentu. Kepraktisan mengirim hasil lab yang panjang juga rekapitulasi gambaran naik turunnya tekanan darah yang biasanya dapat difoto dari kurva laporan di rekam medis," lanjutnya.

Lewat mengirim gambar, dokter bisa dengan mudah memantau perkembangan. Misalnya lewat satu foto dari monitor di ruang ICU yang sudah bisa menggambarkan monitor EKG, kadar oksigen, tekanan darah, laju jantung, dan laju napas.

"Jika memang berubah-berubah kadang divideokan oleh dokter jaga, lalu dapat dikirim via ponsel," terangnya.


Selain dr Vito, drg Gusti Ayu Putri Langgeng Sari, mengeluhkan hal yang sama. "Iya banget (ada pengaruhnya ke pekerjaan -red). Intinya terhambat karena misalnya kalau ada pasien yang mau tanya-tanya jadi nggak bisa langsung respons," ujar dokter dengan sapaan drg Sari tersebut.

"Lebih ke arah kita yang terima sih (foto atau video --red) misalnya pasien kirim foro rontgent dikirimnya pas sudah pulang, kita terima kondisi foto panoramik kita nggak bisa langsung jawab karena kan nggak nge-download, lama jawabnya. Jadi harus cari wifi, agak lama beberapa jam tuh baru bisa," sambungnya.

Selain itu, ia juga mengkhawatirkan apabila ada kasus-kasus emergency yang membutuhkan respons cepat.

Meski begitu drg Sari menuturkan bahwa ada baiknya kita juga mengapresiasi Kominfo dan aparat lainnya atas aksi yang telah mereka lakukan. Ia pun salut dengan kerja dari tim cyber yang berhasil menyaring orang-orang yang menyebarkan kata-kata yang menimbulkan keresahan via medsos.

"Kita mesti makasih sama aparat yang melakukan itu karena negara bisa aman, karena orang suka share fitnah itu kan hanya menimbulkan keresahan. Lagipula kan bisa jadi sekalian puasa medsos juga," tutupnya.



Hati-hati, Bahaya Penggunaan VPN Gratis di Android!:

[Gambas:Video 20detik]

(ask/fds)
News Feed