Rabu, 29 Mei 2019 10:29 WIB

WHO Klasifikasi Stres Bekerja Jadi Penyakit, Ini Cara Atasinya

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi burnout atau stres di tempat kerja. Foto: iStock Ilustrasi burnout atau stres di tempat kerja. Foto: iStock
Jakarta - Dalam rapat di Jenewa baru-baru ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membuat ketetapan terbaru yang mendefinisikan burnout atau stres di tempat kerja sebagai 'sindrom yang dikonseptualisasi sebagai hasil dari stres kronis di tempat kerja yang tidak terkelola dengan baik'.

Ketetapan dalam International Classification of Disease (ICD) tersebut juga mengakhiri perdebatan soal apakah kondisi tersebut dikategorikan penyakit atau bukan.

Sindrom tersebut ditandai dengan tiga hal. Pertama, kehilangan energi dan kelelahan. Kedua, makin ada jarak dengan pekerjaan seseorang atau perasaan negatif maupun sinis terkait pekerjaan seseorang. Ketiga, berkurangnya efikasi profesional.

Mengapa kini kita mudah sekali kena burnout? Menurut NBC News, salah satu alasannya adalah kemajuan globalisasi dan penggunaan teknologi, yang mengharuskan kita terkoneksi selama 24/7, dan menciptakan lingkungan di mana hampir mustahil untuk melepaskan diri dari pekerjaan.


Shainna Ali, psikolog dan pemilik Integrated Counseling Solutions di Orlando, Florida, menyebutkan burnout bisa terjadi akibat ketidakseimbangan kehidupan sehari-hari dengan pekerjaan, lingkungan kerja disfungsional dan ekspektasi pekerjaan yang tidak jelas.

"Burnout normalnya ada tanda-tanda masalah kesehatan mental yang terkait sekitar pekerjaan, (seperti) mood yang turun, tidak ada motivasi, atau kecemasan. Orang-orang seharusnya bertanya pada diri sendiri, apakah aku merasa lebih baik saat aku pulang bekerja? Atau aku menjadi cemas saat yang lain membahas pekerjaan di waktu bersantai?" tutur Ali.

Ia mengatakan mengubah pola negatif yang menyebabkan burnout agak sedikit sulit, namun memerhatikan kebutuhan seseorang sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan di tempat kerja. Ali menyarankan tiga cars untuk merawat diri di tempat kerja:

1. Menumbuhkan kesehatan di tempat kerja dengan membangun koneksi yang sehat di tempat kerja.

2. Gunakan waktu istirahat secara efektif, dengan berjalan-jalan dan berpartisipasi dalam kegiatan yang cepat dan menyenangkan.

3. Berlibur.

Ali juga menambahkan bahwa perubahan ketetapan WHO menyoroti kebutuhan departemen HR untuk melihat lebih dalam agar menciptakan lingkungan kerja yang positif. Baginya, ketetapan ini memvalidasi bahwa burnout merupakan masalah di pekerjaan dan memerlukan perhatian.

"Sangat mudah untuk melupakan self-care. Kita mungkin tak menyadarinya namun seiring waktu dampaknya bisa sangat dramatis, bahkan berbahaya. Untungnya, orang-orang mulai lebih mempertimbangkan hasil dan manfaat dari self-care, mereka menemukan praktik-praktik kesehatan mental yang memiliki efek luar biasa baik di dalam maupun di luar tempat kerja," tandasnya.

(frp/kna)
News Feed