Minggu, 02 Jun 2019 04:45 WIB

SBY Sebut Bu Ani Sempat Membaik, Kenapa Bisa Terjadi 'Ledakan' Sel Kanker?

Firdaus Anwar - detikHealth
Ani Yudhoyono meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker darah. (Foto: Grandyoz Zafna) Ani Yudhoyono meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker darah. (Foto: Grandyoz Zafna)
Jakarta - Presiden RI Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berbicara kepada para pelayat di kediamannya kalau kondisi sang istri, Ani Yudhoyono, sempat membaik. Tapi kemudian mendadak terjadi ledakan sel kanker yang membuat kondisi Ani Yudhoyono menurun hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Sabtu (1/6/2019).

"Tiga hari yang lalu, ada krisis ada ledakan sel-sel kanker. Meningkat tajam sehingga para dokter kewalahan. Sehingga pada akhirnya masuk ICU," kata SBY seperti dikutip dari detikcom.


Misteri 'sel kanker instan' sendiri pernah diteliti oleh ilmuwan dari Wellcome Trust Sanger Institute yang laporannya dipublikasi di jurnal Cell 2019.

Dr Peter Campbell yang terlibat dalam studi menyebut bukti menunjukkan kadang ada kejadian 'kromosom' sel meledak menyebabkan kerusakan pada struktur deoxyribonucleic acid (DNA) dalam waktu singkat. Struktur DNA yang rusak itu lalu menjadi jalan pintas bagi sel kanker untuk muncul mendadak.

Hal ini diketahui setelah ilmuwan memeriksa kecacatan genetik pada 750 tumor. Sebagian besar kerusakan pada gen tampak terjadi dalam jangka panjang, namun pada 40 tumor pola kerusakan terjadi hampir dalam waktu beberapa hari saja.

"Banyak kejadian kanker membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan beberapa dekade, untuk berkembang. Tetapi kita juga tahu bahwa pada beberapa pasien kanker bisa muncul lebih cepat dari itu," kata Dr Peter seperti dikutip dari Daily Mail, Minggu (2/6/2019).

"Kami punya beberapa contoh pasien yang menjalani mammogram atau rontgen lainnya dengan hasil normal dan hanya selang beberapa bulan kemudian mereka terkena kanker agresif. Kemungkinan peristiwa bencana (ledakan kromosom -red) itu mempersingkat waktu berkembang kanker," lanjutnya.

Pada akhirnya dalam laporan para ilmuwan menyebut masih belum tahu pasti apa yang menyebabkan kerusakan mendadak di balik fenomena 'kanker instan' ini.

(fds/up)