Selasa, 04 Jun 2019 11:15 WIB

Pelaku Ledakan Pospol Kartasura Dirawat, Begini Cara Bom Mencederai Tubuh

Firdaus Anwar - detikHealth
Ledakan bom di dekat pospol Sukoharjo diduga kasus bom bunuh diri. (Foto: Hilda-detikcom) Ledakan bom di dekat pospol Sukoharjo diduga kasus bom bunuh diri. (Foto: Hilda-detikcom)
Jakarta - Pada Senin (3/6) malam terjadi ledakan di dekat pos polisi Kartasura, Sukoharjo. Diduga ini adalah kasus bom bunuh diri di mana satu-satunya korban diduga juga sebagai pelaku.

Kapolda Jawa Tengah, Irjen (Pol) Rycko Amelza Dahniel, mengambil kesimpulan tersebut karena bahan peledak hanya mengenai tubuh satu orang pria sedangkan pos polisi mengalami kerusakan ringan. Korban bom kartasura tengah dirawat di rumah sakit dengan luka cukup serius.

"Sedang kritis di rumah sakit. (Kasus ditangani) oleh kepolisian Polda Jateng dan Polres Sukoharjo," kata Rycko dikutip dari detikcom, Selasa (4/6/2019).


Dikutip detikHealth dari berbagai sumber, bom sendiri bisa mengakibatkan cedera lewat berbagai cara tergantung dari daya ledak, material, dan lokasinya. Michael R. Jorolemon dari Upstate Medical University menyebut ledakan bom bisa menyebabkan cedera hingga kematian lewat gelombang kejut ledakan, gelombang angin, serpihan material, dan paparan panas.

Gelombang kejut ledakan dapat bergerak menembus tubuh menyebabkan kerusakan pada organ dalam berisi udara. Gendang telinga, paru-paru, mata, saluran cerna, hingga otak dapat rusak akibat gelombang kejut yang dahsyat.

Setelah itu gelombang angin disebut jadi faktor cedera utama yang lebih umum ditemukan karena dapat mementalkan serpihan material dari bom atau lingkungan sekitar ke korban.

"Kekuatan ledakan dapat mendorong puing berkali-kali lebih cepat dari peluru. Oleh karena itu luka kecil yang tampak biasa bisa jadi menyembunyikan kerusakan lebih serius di baliknya. Cedera dapat termasuk fraktur, amputasi, laserasi, dislokasi, dan semua jenis cedera jaringan lunak," kata Michael seperti dikutip dari artikel StatPearls.

"Manajemen cedera ledakan dilakukan oleh tim multidisiplin yang meliputi ahli bedah trauma, ahli bedah umum, spesialis THT, dokter mata, ahli bedah plastik, ahli anestesi, ahli perawatan intensif, dan dokter gawat darurat," lanjutnya.

(fds/up)