Kamis, 13 Jun 2019 11:50 WIB

Prank Nggak Lucu Lagi Kalau Nggak Peduli Hal-hal Berikut Ini

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Ilustrasi prank. (Foto: dok. Youtube) Ilustrasi prank. (Foto: dok. Youtube)
Jakarta - Video-video prank alias membuat orang lain terkejut dengan aksi mengecoh lagi ramai di beberapa channel YouTube para influencer. Ada yang benar bikin ngakak, tapi ada juga yang kadang membuat orang kesal dengan prank yang dilakukan.

Ni Made Diah Ayu Anggreni, MPsi, Psikolog menjelaskan bahwa prank sebenarnya masuk ke dalam kategori permainan, yang tujuannya untuk meramaikan (memeriahkan) suasana dengan mengecoh orang lain melalui usaha mengaburkan logika dan realita.

"Hanya saja seringkali orang yang melakukan prank bersikap keterlaluan dan berlebihan tanpa sungguh-sungguh mempertimbangkan dan memperhitungkan sejauh mana reaksi dari orang yang akan di prank," sambung Veronica Adesla, MPsi, Psikolog, kepada detikHealth.

Oleh karena itu jika ingin melakukan prank, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipastikan oleh pelaku prank. Pertama adalah kamu sudah kenal benar dengan karakter, situasi, dan kondisi orang yang akan di-prank.

"Sehingga dapat mempertimbangkan dan memperhitungkan apakah prank yang akan dilakukan aman atau justru berbahaya untuk orang yang akan di-prank tersebut. Kalau berbahaya yah jangan dilakukan," ujar Veronica.

Veronica pun mengingatkan agar merencanakan tindakan antisipatif untuk mencegah terjadinya hal buruk pada orang yang akan di-prank. Misalnya segera memberitahukan orang yang di-prank bahwa itu hanya prank ketika melihat ia mulai panik atau menunjukkan gejala reaksi emosi yang berlebihan.



Sependapat dengan Veronica, Ayu juga menambahkan beberapa tips lainnya. Ia menyebutkan ketika melakukan prank maka perhatikan juga norma sosial yang berlaku. Untuk hal-hal yang melanggar hak pribadi dan tidak berperikemanusiaan tidak diperbolehkan. Ia mencontohkan misalnya tanpa seijin yang bersangkutan, mengacak barang-barang pribadi miliknya ataupun merusaknya.

"Atau prank melibatkan kekerasan fisik, seperti mengikat mata ataupun tangan dengan kencang hingga menyakiti orang bersangkutan," papar Ayu.

Selanjutnya, Ayu menekankan untuk memastikan aman tidaknya konten prank. Pilih yang aman dan tidak membahayakan baik secara fisik, verbal, dan psikologis. Disebut tidak aman dan membahayakan bila dapat melukai, menyakiti, merugikan, reaksi emosi negatif yang sangat hebat (tantrum, kemarahan meledak, guncangan emosi hebat, kesedihan yang amat sangat), menyebabkan trauma dan gangguan psikologis atau bahkan sampai bisa membahayakan nyawa seseorang.

"Perhatikan juga situasi kondisi tempat dan lingkungan ketika melakukan prank. Prank yang dilakukan di publik akan lebih beresiko karena sulit untuk mengendalikan faktor-faktor eksternal (dari luar) di lingkungan yang bisa turut berdampak pada orang yang di-prank. Misalnya saja: mengambil kunci (mematikan stop kontak) motor teman ketika sedang menunggu di lampu merah," tandasnya.

(ask/up)