Jumat, 14 Jun 2019 09:25 WIB

Hati-hati, Terlalu Stres Kerja Berisiko Sebabkan Kegemukan

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Kelelahan dan stres saat bekerja dinilai mengganggu kesehatan. (Foto: iStock) Kelelahan dan stres saat bekerja dinilai mengganggu kesehatan. (Foto: iStock)
Jakarta - Kelelahan dan stres saat bekerja memang telah dinilai bisa mengganggu kesehatan. Bahkan bisa berisiko tinggi membuat tubuh kita menjadi gemuk hingga obesitas, menurut sebuah studi baru dari Yunani.

Peneliti di University of Georgia di Athena menemukan bahwa orang dewasa yang merasa terlalu keras bekerja atau burn out sering menunjukkan serangkan perilaku tidak sehat yang menyebabkan kenaikan berat badan.

Dikutip dari Health Line, studi ini dilakukan pada nyaris seribu wanita dan pria yang bekerja purna waktu. Hasilnya, para pekerja dengan beban kerja yang lebih berat akan lebih sering melakukan emotional eating alias makan yang dipengaruhi emosi dan makan yang berlebihan.

Selain itu, mereka juga cenderung lebih memilih makanan berlemak tinggi. Ditambah mereka lebih jarang berolahraga, membuat mereka berpotensi untuk naik berat badan.


"Sangat masuk akal bahwa stres kronis bekerja bermanifestasi dalam perilaku dan kebiasaan kesehatan negatif. Psikologis dan tubuh manusia memiliki jumlah energi yang terbatas. Saat energi nyaris habis, sistem tubuh tidak dapat berfungsi dalam kapasitas yang optimal, kata psikolog klinis Carla Marie Manly, PhD.

Ia menambahkan, soal kebiasaan diet dan berolahraga, pekerja yang merasa stres berlebihan akan merasa sangat lesu dan sadar atau tidak sadar berpikir bahwa ia lelah dan tak punya waktu untuk berolahraga. Saat siklus ini berulang, perilaku yang tidak sehat akan menjadi kebiasaan.

Burnout atau stres di tempat kerja sendiri telah diklasifikasikan sebagai penyakit oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kebanyakan stres disebabkan ketidakmampuan pekerja dalam mengatasi permintaan pekerjaan, yang berperan secara signifikan dalam kesehatan mereka menurut studi tersebut.

Carla menyebut para pekerja seharusnya bisa menciptakan lingkungan kerja kolaboratif yang dapat mengurangi stres dan menumbuhkan energi positif tanpa kompetitif. Tujuan yang jelas, jam kerja yang fleksibel, ekspektasi yang masuk akal juga bisa membantu mewujudkannya.

"Ada sebuah konstruksi dalam penelitian psikologis yang disebut 'self-control' yang dipahami dengan baik dan menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Self-control adalah apa yang mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang awalnya mungkin tidak ingin kita lakukan tetapi itu berkontribusi pada kesejahteraan kita dalam jangka panjang," kata Chandler Chang, PhD, seorang psikolog dan pendiri Terapi Lab.

Misalnya hal-hal seperti berolahraga, nutrisi yang baik dan self-care, yang dapat membantu orang hidup lebih sehat. Yang menariknya lagi, self-control bekerja seperti tangki gas, di awal hari terasa penuh, namun di penghujung hari jadi kosong.

Saat tangki gas ini kosong, kamu mencoba melawan segala hal untuk bisa mengendalikan dirimu sendiri. Dan pada akhirnya, kita cenderung menyalahkan diri sendiri saat energi mereka habis dan membuat pilihan yang tidak sehat. Namun, Chang menyebutkan, semuanya tergantung bagaimana kita sendiri menjaga tangki gas tersebut tetap penuh seharian.

Oleh karena itu, Chang menyarankan untuk tetap peduli atau aware apabila kamu telah menunjukkan tanda-tanda burnout di tempat kerja. Apabila terlalu sulit untuk diatasi, konsultasikan pada pihak HR untuk penanganan stres lebih lanjut.

(frp/kna)
News Feed
Breaking News
×
Sidang Sengketa Pilpres 2019
Sidang Sengketa Pilpres 2019 Selengkapnya