Senin, 17 Jun 2019 15:12 WIB

Temukan Jerawat di Belakang Telinga, Ternyata Tanda Kanker Langka

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi benjolan di belakang telinga. Foto: Thinkstock Ilustrasi benjolan di belakang telinga. Foto: Thinkstock
Jakarta - Seorang guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), Emily Foreman (21) tak pernah menyangka bahwa sebuah jerawat bisa menjadi tanda dari kanker langka yang tidak dapat disembuhkan.

Wanita asal Selandia Baru itu menyadari ada sebuah jerawat di belakang telinga kanannya pada awal tahun 2018. Emily mengaku tidak mengkhawatirkannya. Namun lama-kelamaan benjolan yang dikiranya jerawat itu bertambah besar dua kali lipat.

"Benjolan itu bertambah dua kali lipat dan telingaku mulai mati rasa sehingga aku memutuskan untuk pergi ke dokter umum setempat," ujarnya dikutip dari The Sun.

Ia pun harus menjalani pemindaian dan biopsi, ternyata benjolan itu merupakan large cell undifferentiated carcinomas atau karsinoma sel besar, yaitu kanker paru-paru ganas yang tidak menunjukkan diferensiasi skuamosa, kelenjar, atau sel kecil (neuroendokrin) pada bagian jaringan yang diserang kanker.

Emily harus menjalani operasi besar selama enam jam untuk mengangkat karsinomanya itu. Sayangnya, prosedur itu membuat wajah kanannya lumpuh. Ia pun harus melakukan beberapa pengobatan dan terapi.



Pada Februari tahun ini, pemeriksaan rutinnya menunjukkan kanker telah menyebar dan banyak lesi di kedua paru-parunya. Operasi atau radiasi adalah pilihan pengobatan terbaik untuk kankernya.

Imunoterapi juga bisa dijadikan pilihan pengobatan, namun Emily harus mengeluarkan biaya hingga 860 juta rupiah untuk perawatan 10 minggu.

"Kami melakukan apa yang kami bisa. Kami akan menjual rumah dan tinggal di tenda jika terpaksa," kata sang ibu, Sarah.

Emily berharap untuk memulai pengobatan segera dan menemukan bahwa lesi di paru-parunya telah sembuh.

"Jika tubuh saya merespons imunoterapi dengan baik maka ini adalah sesuatu yang dapat kita lakukan tanpa batas waktu," ungkap Emily.

(wdw/up)