Senin, 17 Jun 2019 19:25 WIB

Beragam Risiko Jika ASI Eksklusif Tidak Terpenuhi, Salah Satunya Malnutrisi

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi anak mendapatkan ASI eksklusif. Foto: Istock Ilustrasi anak mendapatkan ASI eksklusif. Foto: Istock
Jakarta - Sekitar 20,4 persen balita usia 2 tahun (baduta) di Kampung Melayu, Jakarta Timur bertubuh pendek yang mengindikasikan pertumbuhan tidak maksimal. Angka yang setara 1 dari 5 baduta tersebut mengindikasikan tingginya risiko anak yang kelak mengalami gangguan motorik, kecerdasan, dan fungsi tubuh lainnya.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO telah menetapkan 20 persen sebagai batasan jumlah anak pendek menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2018 menyatakan, Indonesia memiliki 29,9 persen baduta pendek. Provinsi DKI Jakarta tercatat memiliki 27,2 persen baduta pendek yang menjadi jumlah paling kecil di Indonesia.

"Pendek ini manifestasi dari gangguan yang sebelumnya dialami, misal keseimbangan hormon atau inflamasi usus. Dengan tubuh yang pendek, baduta berisiko tidak bisa memaksimalkan pertumbuhan dan fungsi tubuhnya. Pendek tak hanya dialami baduta yang lahir dengan kondisi stunting dan malnutrisi, namun bisa juga terjadi pada yang lahir sehat dan normal," kata ahli gizi Syarief Darmawan dalam promosi doktor biomedik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Senin (17/6/2019).



Dalam risetnya yang berjudul Peran Inflamasi Usus pada Anak Usia Di Bawah 2 Tahun Terhadap Kejadian Pendek, Syarief melibatkan responden anak usia 6-23 bulan sebanyak 269 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20,4 persen anak bertubuh pendek dengan 55,8 persen adalah laki-laki. Sebanyak 55,5 persen berasal dari kelompok umur 12-23 bulan dan 47,3 persen memiliki orang tua normal.

Tubuh pendek bisa terjadi pada anak yang lahir normal namun mengalami malnutrisi. Kekurangan nutrisi bisa disebabkan gangguan penyerapan nutrisi yang salah satunya disebabkan inflamasi usus. Faktor risiko inflamasi tak harus infeksi, namun bisa juga masalah keseimbangan mikrobiota dalam saluran pencernaan. Pada baduta, salah satu penyebab ketidakseimbangan mikrobiota adalah tidak mendapat ASI eksklusif.

Syarief menyoroti perilaku ibu bekerja di Kampung Melayu yang tidak mendukung pemberian ASI eksklusif. Akibatnya anak kekurangan satu-satunya asupan yang diperlukan hingga usia 6 bulan. ASI mengandung immunoglobulin A atau Ig A yang mampu melekatkan mikroba baik pada saluran pencernaan anak, serta oligosakarida yang menjadi asupan bakteri. Kandungan ini tidak ditemui pada susu sapi atau produk susu formula lainnya.

Riset ini tidak menampilkan cakupan ASI atau riwayat pemberian ASI eksklusif para responden di Kampung Melayu. Namun riset ini menjadi masukan pentingnya menjamin pemberian ASI eksklusif pada anak terutama bagi ibu pekerja. Sangat disayangkan jika anak mengalami gangguan pertumbuhan atau fungsi tubuh akibat inflamasi usus, yang disebabkan tidak mendapat ASI eksklusif padahal terlahir normal.

(up/up)
News Feed