Kamis, 27 Jun 2019 17:03 WIB

Beredar Hoaks Suntik Mati Buat Jomblo Usia 25, Ini Fakta Seputar Euthanasia

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Hoaks suntik mati untuk jomblo usia 25 tahun beredar dan dibantah KOMINFO. Foto: Viral
Jakarta - Hoaks suntik mati untuk jomblo usia 25 tahun beredar dan dibantah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI. Dalam pesan tersebut, disebutkan bahwa Peraturan Pemerintah Kabupaten Blitar No. 69 Tahun 2017 tentang Sanksi Pelanggaran Kependudukan jadi dasar aturan tersebut.

"SETIAP PENDUDUK YANG TIDAK MEMPUNYAI PASANGAN TERHITUNG MULAI USAI 25 TAHUN AKAN DISUNTIK MATI," tulis informasi tersebut.

Faktanya bagaimana?

"Setelah ditelusuri lebih lanjut, menurut Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo informasi atau peraturan tersebut tidaklah benar adanya. Peraturan daerah bisa langsung dicari tahu melalui website Kabupaten Blitar. Tidak ada Perda tentang sanksi pelanggaran kependudukan sebagaimana bunyi pesan yang beredar," jawab Kominfo dalam website resminya.


Hoaks suntik mati untuk jomblo usia 25 tahun beredar dan dibantah KOMINFO.Hoaks suntik mati untuk jomblo usia 25 tahun beredar dan dibantah KOMINFO. Foto: Viral


Suntik mati masih jadi perdebatan yang tidak ada usainya. Meski beberapa negara sudah tidak lagi memberlakukan hukuman tersebut, masih ada negara yang menerapkannya.

Euthanasia adalah tindakan di mana seorang dokter diizinkan oleh hukum untuk mengakhiri hidup seseorang dengan cara yang tidak menyakitkan, selama pasien dan keluarga mereka setuju.

Dikutip dari Medical News Today, ada beberapa klasifikasi dari euthanasia itu sendiri, antara lain voluntary euthanasia. Ini merupakan tindakan pihak ketiga, yang dengan sengaja mengakhiri kehidupan seorang individu, dengan persetujuan individu tersebut.

Ada juga nonvoluntary euthanasia, di mana individu tidak dapat meminta eutanasia dan orang lain membuat keputusan atas namanya, biasanya berdasarkan keinginan yang diungkapkan sebelumnya.

Terakhir ialah involuntary euthanasia yang dilakukan pada seseorang yang dapat memberikan persetujuan, tetapi mereka tidak memberikan persetujuan apapun. Hal ini dapat disebut pembunuhan, karena sering kali melawan keinginan pasien itu sendiri.

Meski begitu, pro kontra mengenai suntik mati masih terus berlangsung. Tapi seperti tidak etis ya untuk menjadikan urusan nyawa sebagai bahan bercandaan atau parahnya lagi hoaks. Coba dipikir ulang lagi.



Simak Video "Fakta dan Hoax Seputar Virus Corona COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/up)