Jumat, 28 Jun 2019 08:17 WIB

Ada Taman Jamu di Jakarta, Apa Itu?

Irwan Nugroho - detikHealth
Taman jamu. Foto: IRWAN NUGROHO Taman jamu. Foto: IRWAN NUGROHO
Jakarta - Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu, Jawa Tengah, punya cara unik untuk memperkenalkan tanaman obat dan jamu kepada masyarakat. Mereka membuat karya artistik yang disebut "taman jamu". Apakah itu?

Sebagaimana namanya, taman jamu adalah taman yang terbuat dari bahan-bahan tanaman obat dan jamu. Komposisi bahan untuk taman itu terdiri dari akar alang-alang, serai, kunir, buah krangean, jahe, kulit pohon secang, brotowali, dan bahan lainnya.

Keindahan taman jamu dapat dilihat dan dinikmati oleh masyarakat di Galeri Riset Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan di Jalan Percetakan Negara No 29, Jakarta Pusat. Seperti diketahui B2P2TOOT adalah lembaga di bawah Litbang Kemenkes.

detikHealth menyempatkan diri berkunjung ke galeri itu pada akhir pekan lalu. Ada dua taman jamu yang dipamerkan di galeri. Satu taman berukuran kecil berada di dekat resepsionis, sedangkan satunya lagi berukuran cukup besar dibuat di sudut belakang galeri.



Taman jamu di Kemenkes. Taman jamu di Kemenkes. Foto: IRWAN NUGROHO


Bentuk taman jamu tak ubahnya taman di halaman rumah kita. Bahan-bahan jamu yang sudah kering dan siap ramu (simplisia) itu disusun sedemikian rupa di atas lantai. Perbedaan warna pada setiap bahan jamu menimbulkan keindahan tersendiri. Agar makin menarik, bahan-bahan itu ditaburkan mengikuti garis yang berkelak-kelok.

Kalau bingung dengan nama setiap bahan dan khasiatnya apa, jangan khawatir. Sebab, di setiap bahan diberi keterangan nama serta khasiatnya. Misalnya alang-alang berkhasiat mengatasi panas dalam, buah krangean untuk bengkak, serai untuk alergi, dan secang untuk mengatasi gatal-gatal.

"Ini salah satu cara untuk mengenalkan tanaman obat dan jamu kepada masyarakat, melalui sentuhan seni. Dasar pemikirannya adalah warna, aroma, khasiat, dan bentuk dari taman tersebut," kata Darwanto, pegawai B2P2TOOT yang menjadi salah satu penggagas taman jamu kepada detikHealth di Galeri Riset Kesehatan.




Taman jamu.Taman jamu. Foto: IRWAN NUGROHO


Ia menjelaskan, taman jamu itu dibuat sekitar tiga bulan yang lalu. Dalam membuat taman tersebut, Darwanto dibantu oleh sebuah tim yang beranggotakan enam orang. Pembuatan taman sendiri selesai dalam waktu dua hari.

"Dulu taman jamu ini basah. Karena tuntutan ini sebagai kunjungan tamu, dan bisa dinikmati orang dalam jangka waktu lama, maka kita keringkan. Membuat taman jamu yang kering," ujarnya.

Beragam tumbuhan jamu.Beragam tumbuhan jamu. Foto: IRWAN NUGROHO


Bahan-bahan taman itu, lanjut Darwanto, didatangkan dari kebun milik B2P2TOOT di Tawangmangu. Namun, sebagian ada juga yang harus mengambil ke hutan di lereng Gunung Lawu. Total bobot semua bahan saat masih basah kurang lebih 3 ton. Kini, bobotnya tinggal sekitar 2 ton.

Sebelum dibuat taman, serai cs itu harus lebih dulu disemprot dengan cairan antihama dan jamur (fumigasi). Sehingga, bahan-bahan tersebut tidak membusuk dan aman. "Kalau sudah difumigasi, berarti tidak bisa dikonsumsi lagi. Ini hanya untuk pameran," pungkasnya.



Simak Video "Kids Zaman Now Jangan Takut Minum Jamu! "
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)