Jumat, 19 Jul 2019 14:19 WIB

Wah! Rata-rata Orang Indonesia Punya 7 Gigi Bermasalah

Aditya Mardiastuti - detikHealth
Data menyebut rata-rata orang Indonesia punya 7 gigi bermasalah (Foto: Aditya Mardiastuti/detikHealth) Data menyebut rata-rata orang Indonesia punya 7 gigi bermasalah (Foto: Aditya Mardiastuti/detikHealth)
Labuan Bajo - Ada idiom yang populer di Indonesia lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Nyatanya sakit gigi memang bikin beraktivitas tak nyaman hingga makan pun tak enak.

Mayoritas sakit gigi biasanya disebabkan karena gigi berlubang. Faktanya, indeks penyakit gigi dan mulut di Indonesia juga tinggi.

"Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan menunjukkan tahun 2007 tingkat keparahan DMF (Decay, Missing, Filling) gigi dan mulut Indonesia itu 5,6 artinya setiap warga Indonesia itu ada kerusakan 5-6 gigi. Kemudian diteliti lagi tahun 2013 turun jadi 4,6 artinya ada perbaikannya ini," kata Pengurus Besar PDGI, Dr drg RM Sri Hananto Seno, saat membuka Seminar dan Hands On Lonto Leok Dentistry II di Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Jumat (19/7/2019).

Seno mengatakan dari riset terbaru rupanya angka DMF (Decay, Missing, Filling) makin meningkat. Dari data terbaru terungkap rata-rata orang Indonesia punya tujuh gigi yang 'bermasalah'.

"Tahun 2018 itu jadi 7,1 tapi ini kan tidak bisa serta merta yang belakang ini mewakili kondisi karena ditelitinya, yang nyata tahun 2007-2013 itu bukan dokter tapi tenaga kesehatan sehingga mungkin belum bisa dipercaya. Tahun 2018 ada 2.526 dokter gigi turun tangan untuk meneliti 120 ribu blok sensus ternyata kerusakan seluruh Indonesia itu 7,1 DMF karies, missing, filling (tambalan)," urainya.


Wah! Rata-rata Orang Indonesia Punya 7 Gigi BermasalahFoto: Aditya Mardiastuti/detikHealth


Padahal, menurut Seno, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mencanangkan usia 18 tahun bebas karries atau gigi berlubang. Ketimpangan inilah yang jadi perhatian PDGI.

"Kalau anak kecil atau dari lahir usia 5-6 tahun sudah ada 5-9 gigi rusak ini potensi stunting, bagaimana makan yang nyaman, tentunya kalau sakit gigi dia malas (makan), apalagi dokter giginya nggak ada sehingga stuntingnya menjadi besar manakala sakit gigi. Ibu hamil juga demikian kalau sakit gigi juga males makan, ini gizi anak rendah, bahwa kesehatan gigi dan mulut sangat penting saat ibu hamil dan anak tumbuh kembang giginya," urainya.

Seno lalu menyontohkan warga di Flores yang mengeluh sakit gigi lebih banyak yang langsung memilih opsi mencabut. Sehingga banyak juga warga yang ompong.

"Daerah ini DMF banyak gigi kehilangan, sakit (terus) cabut sehingga butuh penggantian gigi. Teman-teman kita banyak dokter gigi yang melaporkan sakit cabut aja akhirnya banyak yang ompong. Maka kita program 3 ribu gigi palsu, makanya Labuan Project saya ubah menjadi Flores Smile," tuturnya.



Seno pun mengajak semua pihak untuk ikut turun tangan. Apalagi diduga ada korelasi antara gigi berlubang dengan stunting di daerah pelosok.

"Daerah DMF mana tinggi, itu pasti ada korelasi, memang dari Kesbangkes belum dipublikasikan. Ini semua tanggung jawab kita semuanya, terutama di daerah timur ini perlu penanganan khusus, maka PDGI memfokuskan wilayah timur," terangnya.

"Tentu perlu kolaborasi PDGI, pemerintah daerah dan yang lainnya untuk mengurangi DMF ini pada tahun berikutnya. Target Kemenkes 2030 kita free karies," tutupnya.

Selain seminar, para dokter yang tergabung dalam Kolegium Dokter Gigi Indonesia (KDGI) bersama ARA Foundation juga melakukan bakti sosial di Labuan Bajo dan Pulau Rinca. Kegiatan ini berlangsung selama 19-21 Juli 2019.



Simak Video "Ini Dia Rapor Merah Kesehatan Gigi dan Mulut Anak Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(ams/up)