Minggu, 21 Jul 2019 07:00 WIB

Cerita Warga Pulau Rinca Melaut ke Labuan Bajo demi Obati Sakit Gigi

Aditya Mardiastuti - detikHealth
Salah satu perawat di Puskesdes Pulau Rinca. (Foto: Aditya Mardiastuti/detikHealth) Salah satu perawat di Puskesdes Pulau Rinca. (Foto: Aditya Mardiastuti/detikHealth)
Manggarai Barat, NTT - Sakit gigi kerap kali bikin aktivitas serba tak nyaman. Salah satu cara mengatasinya adalah pergi ke dokter gigi. Lantas bagaimana nasib para warga yang aksesnya jauh dari dokter gigi?

Cerita itu disampaikan Ratna, warga Pulau Rinca, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di Pulau Rinca hanya ada pusat kesehatan desa (Puskesdes), dengan dua orang bidan, dan dua orang perawat.

"Di sini nggak ada dokter gigi, kalau sakit harus ke Labuan Bajo," kata Ratna saat ditemui di Pulau Rinca, Manggarai, NTT, Sabtu (20/7/2019).

Ratna mengatakan tak cuma harus menahan ngilu, warga juga harus bersabar menempuh perjalanan via laut sekitar satu jam. Belum lagi perjalanan menuju ke rumah sakit.

"Dari sini ke Labuan Bajo naik ojek laut, kalau pp Rp 50 ribu. Berobat ke rumah sakit itu tambal gigi Rp 100 ribu, cabut Rp 300 ribu, mahal," keluhnya.


Cerita Warga Pulau Rinca Melaut ke Labuan Bajo demi Obati Sakit Gigi Foto: Aditya Mardiastuti/detikHealth


Ibu empat anak ini lalu menyontohkan suaminya yang sedang mengeluh sakit gigi. Namun, karena harus melaut suaminya tidak bisa datang ke acara bakti sosial Kolegium Dokter Gigi Indonesia (KDGI) dan ARRA Foundation di Pulau Rinca.

"Suami saya lagi melaut, seminggu baru pulang. Jadi tidak bisa datang ikut di sini, kalau melaut jauh-jauh," terangnya.

Tak hanya sakit gigi, warga Pulau Rinca juga harus susah payah jika sakit. Apalagi tenaga Puskesdes juga terbatas.

"Ada Puskesmas tidak juga jauh dari kita punya rumah. Biasa keluhan sakit panas, kalau kita mau bersalin di puskesmas, sakit kepala di Puskesmas. Kalau sakit betul baru di Labuhan Bajo tidak bisa di sini," terangnya.

Tak heran, banyak warga di Pulau Rinca memilih mencabut giginya (ompong) saat sakit gjgi ketimbang mengobatinya. Ini juga dibuktikan dari data Riskesdas, 43,9 persen warga NTT mengalami gigi rusak/berlubang/sakit dan 18,2 persen di antaranya mengalami gigi hilang karena dicabut/tanggal sendiri.

Salah satu Warga Rinca yang melakukan perjalanan jauh demi berobat. Salah satu Warga Rinca yang melakukan perjalanan jauh demi berobat. Foto: Aditya Mardiastuti/detikHealth



Simak Video "Ini Dia Rapor Merah Kesehatan Gigi dan Mulut Anak Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)