Minggu, 28 Jul 2019 07:32 WIB

Kerja Gaji Rp 8 Juta Tapi Risikonya Seperti Ini, Siapa Mau?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Gaji tinggi bukan segala-galanya, sehat tetap yang utama (Foto: iStock)
Jakarta - Bekerja dengan gaji tinggi sepertinya jadi impian banyak orang. Bagi kalangan fresh graduate pada umumnya, iming-iming gaji Rp 8 juta per bulan sepertinya sudah cukup untuk membuat mereka rela melakukan apa saja.

Tapi di balik gaji tinggi, ada risiko 'tersembunyi' lho. Bisa jadi perusahaan memberikan harga yang sepadan dengan beban kerja cukup berat dari besaran gaji yang kamu terima.

Beban kerja yang tinggi bisa membuatmu jadi pergi subuh dan pulang di malam hari. Berangkat fajar membuatmu harus berdesak-desakan dengan penumpang yang lain dan dihadang oleh tingkat kepadatan jalanan yang membuat kesabaran bisa habis. Belum sampai di kantor saja sudah stres!

Selain itu, risiko lainnya adalah masalah kesehatan yang beberapa di antaranya dikutip detikHealth dari berbagai sumber.

1. Stres dan gangguan jiwa

Siapa di sini yang masih harus kerja di akhir pekan? Stres membayangi mereka-mereka yang bekerja nyaris tak kenal waktu. Memang sih, tak ada pekerjaan yang terbebas dari stres. Tetapi beban kerja yang terlalu berat, jam kerja yang panjang, serta suasana lingkungan kerja yang buruk merupakan tiga penyebab utama munculnya masalah kesehatan mental di tempat kerja.

"Beban kerja yang berat itu misalnya berlebihan dibandingkan rekan kerja yang lain dan tidak sesuai job deskripsinya. Sementara jam kerja yang terlalu panjang ya akibat dari beban kerja yang tidak terselesaikan di jam kerja normal," tutur dr Eka Viora, SpKJ, Ketua Pengurus Pusat Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI) kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Bahaya masalah mental di tempat kerja pun menurut dr Eka tidak sekadar membuat produktivitas menurun. Dalam jangka pendek, masalah mental dapat membuat munculnya keluhan fisik seperti sakit kepala dan gangguan pencernaan.

"Dalam jangka panjang bisa menyebabkan kelelahan mental dan depresi. Nah jika sudah begini maka kemauan melakukan perilaku berisiko seperti penggunaan narkoba, merokok dan mabuk alkohol juga akan lebih besar," paparnya.

Dalam jangka panjang bisa menyebabkan kelelahan mental dan depresi. Nah jika sudah begini maka kemauan melakukan perilaku berisiko seperti penggunaan narkoba, merokok dan mabuk alkohol juga akan lebih besardr Eka Viora, SpKJ - Dokter Jiwa


2. Obesitas

Peneliti di University of Georgia di Athena menemukan bahwa orang dewasa yang merasa terlalu keras bekerja atau burn out sering menunjukkan serangkan perilaku tidak sehat yang menyebabkan kenaikan berat badan.

"Sangat masuk akal bahwa stres kronis bekerja bermanifestasi dalam perilaku dan kebiasaan kesehatan negatif. Psikologis dan tubuh manusia memiliki jumlah energi yang terbatas. Saat energi nyaris habis, sistem tubuh tidak dapat berfungsi dalam kapasitas yang optimal, kata psikolog klinis Carla Marie Manly, PhD., dikutip dari Healthline.

Ia menambahkan, soal kebiasaan diet dan berolahraga, pekerja yang merasa stres berlebihan akan merasa sangat lesu dan sadar atau tidak sadar berpikir bahwa ia lelah dan tak punya waktu untuk berolahraga. Saat siklus ini berulang, perilaku yang tidak sehat akan menjadi kebiasaan.



3. Sakit jantung

Laporan dari beberapa studi menunjukkan bahwa kerja lembur atau berlebihan dapat meningkatkan munculnya faktor risiko kardiovaskular seperti hipertensi, kolesterol atau diabetes melitus. Rendahnya kadar melatonin dapat menyebabkan gangguan metabolisme tubuh dan memicu hipertensi yang merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular.

"Faktor stres dan kelelahan memicu neurohumoral akan meningkatkan proses atherosklerosis dan peningkatan tekanan darah," tutur ahli jantung dari dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, dr Isman Firdaus.

Faktor stres dan kelelahan memicu neurohumoral akan meningkatkan proses atherosklerosis dan peningkatan tekanan darahdr Isman Firdaus - Dokter jantung


4. Pembekuan darah

Duduk yang berkepanjangan saat bekerja terlalu lama menyebabkan darah menjadi stasis di tungkai yang selanjutnya dapat memburuk sehingga terjadinya sumbatan bekuan darah di tungkai atau disebut DVT (deep vein thrombosis).

Bekuan darah di tungkai yang berat dapat berakibat fatal atau kematian apabila bekuan darah di tungkai terlepas menuju pembuluh darah paru yang menyebabkan sumbatan pembuluh paru-paru (emboli paru).

"Dianjurkan agar pekerja duduk dengan ergonomis saat bekerja dan biasakan untuk melakukan senam peregangan setiap 2 jam bekerja selama 2 menit untuk menghindari DVT," pesan dr Isman.

Dianjurkan agar pekerja duduk dengan ergonomis saat bekerja dan biasakan untuk melakukan senam peregangan setiap 2 jam bekerja selama 2 menit untuk menghindari DVTdr Isman Firdaus - Dokter jantung


5. Stroke

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet menemukan orang yang bekerja selama lebih dari 55 jam dalam sepekan memiliki risiko lebih besar terkena stroke hingga 34 persen, dibandingkan mereka yang bekerja dalam waktu kerja yang standar. Penelitian kedua ini dilakukan terhadap 529.000 pria dan wanita yang dimonitor selama rata-rata 7 tahun.

Memang tidak ada hubungan langsung, namun para peneliti menyebut ada beberapa faktor yang memengaruhi kondisi ini. Misalnya kurangnya pergerakan fisik, tingkat stres yang tinggi, serta kecenderungan mengonsumsi minuman beralkohol. Selain itu orang yang lebih sering menghabiskan waktunya untuk bekerja cenderung jarang mengunjungi dokter untuk berkonsultasi seputar masalah kesehatan mereka.



Simak Video "dr Siti Nadia Tak Lagi Jadi Jubir Kemenkes, Ini Penggantinya"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)