Minggu, 28 Jul 2019 20:05 WIB

Agar Tak Batal Nikah Karena 'Sakit Hati', Skrining Hepatitis Digencarkan

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Skrining hepatitis untuk calon pengantin bisa mencegah penularan dari ibu ke janin yang dikandungnya (Foto: Basith Subastian) Skrining hepatitis untuk calon pengantin bisa mencegah penularan dari ibu ke janin yang dikandungnya (Foto: Basith Subastian)
Jakarta - Vaksin hepatitis B sangat penting untuk mencegah penularan hepatitis B. Di Indonesia, vaksin ini sudah diwajibkan untuk diberikan sebanyak tiga kali pada bayi, yakni di bulan ke-0, ke-1 dan ke-6.

Hal ini sangat penting untuk dilakukan karena hepatitis B sudah menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Ada banyak risiko yang mengintai, salah satunya bisa jadi batal nikah, seperti dialami pasien dr Rino Alvani Gani, SpPD-KGEH dari FKUI-RSCM.

"Saya kira persoalan hepatitis ini lebih luas daripada penyakitnya. Masalah sosial juga sangkut paut, oleh karena stigma yang ada di masyarakat soal hepatitis. Ada seorang pasien wanita saya yang dateng ke saya dengan hepatitis B positif dia cerita dua minggu lagi akan menikah. Undangan sudah disebar, gedung sudah siap, penghulu sudah oke, semua sudah oke. Begitu ketahuan hepatitis B positif bubar semua, nggak jadi menikah," kisahnya, pada Minggu (28/7/2019).

Batal menikah menjadi salah satu dampak yang terjadi akibat stigma pada pengidap hepatitis B. Ada juga dampak pada lingkungan pekerjaan, di mana cukup banyak pekerja yang ditolak setelah diketahui mengidap hepatitis B.



Karena alasan itu pula, di DKI Jakarta kini bagi para calon pengantin baru harus melakukan screening hepatitis B. Bila ketahuan mengidap, maka pasangannya harus segera divaksin, tutur dr Rino.

Hal ini diamini pula oleh Dr dr Irsan Hasan, SpPD-KGEH, FINASIM, di mana nantinya beberapa provinsi di Indonesia juga akan mengikuti jejak DKI dalam melakukan screening hepatitis B untuk calon pengantin, khususnya calon mempelai perempuan.

"Kok perempuan sih? Karena kalau mau memutus penularan hepatitis, penularan dari ibu ke bayi ini yang harus diputus. Vaksin yang tidak positif (hepatitis B). Kalau bapaknya yang positif, akan nular nggak ke bayinya? Nggak, yang nularin ibunya. Jangan karena gara-gara ibunya mengabaikan vaksinasi untuk bayinya, si anak itu nanti setelah besarnya kena dampak yang ditanggung bukan main-main

dr Irsan mengatakan memang tidak mudah untuk menyadarkan orang yang sudah terkena isu antivaksin. Akan tetapi kepedulian bisa dimulai dari diri sendiri untuk mencegah meningkatnya angka hepatitis B di Indonesia dan menurunkan stigma di masyarakat.

"Kita juga mulai bergerak untuk menghilangkan stigma tadi. Sehingga orang akan lebih leluasa, lebih bebas untuk memeriksakan dirinya tanpa ada ketakutan-ketakutan tadi yang berkaitan dengan kesalahan sosial maupun pekerjaannya," tutup dr Rino.



Simak Video "Yuk, Cegah Kanker Serviks Mulai dari Sekarang!"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)