Jumat, 02 Agu 2019 08:33 WIB

Terkonfirmasi, Wabah Ebola di Kongo Sudah Menelan Korban Kedua

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ebola kembali menelan korban di Kongo. Foto: Reuters Ebola kembali menelan korban di Kongo. Foto: Reuters
Jakarta - Wabah Ebola di Kongo dilaporkan telah menelan korban keduanya. Korban ini berasal dari Goma, daerah transit besar di perbatasan Rwanda, dan meninggal pada Rabu (31/7) lalu.

Pihak Médecins Sans Frontières (MSF) yang menangani pria tersebut mengatakan di Twitter ia hanya bertahan selama 26 jam. Goma sendiri merupakan rumah dari populasi yang sangat aktif, lebih dari satu juta jiwa, sehingga membuatnya jadi daerah tinggi risiko penyebaran Ebola.

"Ini adalah kejadian yang telah kami antisipasi. Oleh karena itu kami telah melakukan persiapan intensif di Goma sehingga kasus baru apapun bisa teridentifikasi dan dapat direspon secepatnya," tutur Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal (Dirjen) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam akun Twitternya seperti dilansir oleh CNN.

Lebih dari 5 ribu tenaga kesehatan telah divaksinasi untuk melawan Ebola di dalam kota dan pusat-pusat kesehatan telah diberikan latihan dan peralatan untuk meningkatkan pencegahan dan pengendalian infeksi, ia melanjutkan.

WHO telah menyatakan bahwa wabah Ebola ini termasuk dalam Darurat Kesehatan Internasional pada 17 Juni lalu, setelah orang pertama yang terdiagnosis di Goma meninggal dunia. Ghebreyesus mengatakan korban kedua tak ada sangkut pautnya dengan korban pertama.


Korban kedua merupakan pekerja tambang berusia 46 tahun yang bekerja di provinsi Ituri, Goma Utara. Ia mengalami gejala virus Ebola setelah pulang ke rumah, seperti dikatakan oleh Margaret Harris, juru bicara WHO di Goma.

Para investigator kesehatan tak sempat menanyai pria tersebut karena kondisinya sudah sangat buruk saat ia masuk ke rumah sakit. Kini mereka mencobat untuk menyusuri jalur pergerakan pria tersebut untuk mengidentifikasi di mana ia tertular dan siapa saja yang bisa jadi sudah terpapar.

"Kami berasumsi bahwa saat perjalanannya pulang ke Goma ia melewat area penularan. Anggota keluarganya kini telah divaksinasi dan dipantau oleh personel medis yang menjalankan pengecekan harian. Dia berada di dalam komunitas yang sakit untuk waktu yang cukup lama, lebih lama dari yang kita ingin lihat untuk orang-orang berada di luar sana," ujar Harris.

Penyakit langka namun mematikan ini bisa menyebab serangkaian gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, diare, pendarahan mendadak. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1976 saat wabah terjadi dekat Sungai Ebola di Kongo.

Para peneliti beranggapan bahwa virus ini umumnya menginfeksi manusia melalui kontak dekat dengan hewan yang terinfeksi, seperti misalnya kelelawar dan virusnya menyebar dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh pasien (darah, feses, muntahan, jarum).



Simak Video "Gawat! 3 Pasien Ebola di Kongo Kabur dari Rumah Sakit"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)