Rabu, 07 Agu 2019 17:33 WIB

Cara Tangkal Radikal Bebas Saat Udara Jakarta Tidak Sehat Pagi Hari

Faidah Umu Sofuroh - detikHealth
Foto: Shutterstock
Jakarta - Data Air Quality Index Jakarta Senin (5/8) sempat menunjukkan kualitas udara yang lebih baik pasca padam listrik massal se-Jabodetabek Minggu (4/8). Apakah membaiknya kualitas udara Jakarta memang akibat listrik padam itu?

Kepala Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal mengatakan kedua hal itu mungkin terkait. Meski demikian, kajian lebih lanjut dibutuhkan untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat.

Sementara itu pengkampanye energi dan perkotaan Walhi Dwi Sawung mengatakan setidaknya ada tiga faktor yang diduga mempengaruhi kondisi itu. Tiga faktor itu adalah aktivitas orang, aktivitas industrial dan angin kencang pada hari itu.

Sayangnya berdasarkan data AirVisual pukul 06.00 WIB, Rabu (7/8), Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di 145. Kualitas udara Jakarta hari ini dinyatakan tidak sehat untuk kelompok sensitif. Jakarta berada di urutan ketiga kota paling berpolusi sedunia.


Polusi udara yang tak kunjung membaik ini bisa menciptakan radikal bebas yang sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Radikal bebas merupakan zat berbahaya yang sangat reaktif dan bersifat merusak jaringan dan organ tubuh manusia.

Medical Manager Consumer Health Division PT Kalbe Farma, dr Helmin Agustina Silalahi, mengungkapkan radikal bebas bisa berasal dari lingkungan sekitar seperti polusi, alkohol, asap tembakau, logam berat, logam transisi, pelarut industri, pestisida, obat-obatan tertentu seperti halotan, parasetamol, dan radiasi.

"Ketika kelebihan radikal bebas tidak bisa dihancurkan, akumulasinya dalam tubuh menghasilkan fenomena yang disebut stres oksidatif. Proses ini memainkan peran utama dalam perkembangan penyakit kronis dan degeneratif," ungkap dr Helmin kepada detikHealth, Rabu (7/8/2019).

Ia mengatakan ada cara yang bisa dilakukan untuk menangkal radikal bebas, yaitu menggunakan antioksidan. Antioksidan adalah molekul yang cukup stabil untuk menyumbangkan elektron ke radikal bebas dan menetralisirnya sehingga mengurangi kapasitasnya untuk merusak.

"Antioksidan ini menunda atau menghambat kerusakan sel terutama melalui sifat penangkalan radikal bebasnya," ungkapnya.

Ada beberapa vitamin yang mengandung antioksidan antara lain vitamin A, C, dan E. dr Helmin menyebutkan ada dua mekanisme antioksidan. Pertama, antioksidan menyumbangkan sebuah elektron ke radikal bebas dan yang kedua antioksidan digunakan untuk penghilangan ROS.

"Antioksidan dapat memberikan efeknya pada sistem biologis dengan mekanisme yang berbeda termasuk sumbangan elektron, ion logam, ko-antioksidan, atau dengan regulasi ekspresi gen," tuturnya.


Ada berbagai makanan dan buah-buahan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan vitamin A, C, dan E. Contohnya seperti wortel, apel, jeruk, stroberi, mangga, bayam, alpukat, gandum, dan lain-lain.

Selain makan makanan yang mengandung antioksidan, tubuh juga memerlukan vitamin C yang dikenal ampuh untuk mendukung sistem imun tubuh. Dengan sistem imun yang baik, maka tubuh akan lebih tahan terhadap penyakit-penyakit yang berada di lingkungan sekitar, termasuk penyakit yang berasal dari polusi udara.

"Vitamin C sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan semua sel tubuh. Vitamin C berperan sebagai antioksidan dan membantu fungsi berbagai enzim dalam tubuh. Beberapa penelitian membuktikan konsumsi vitamin C secara rutin terbukti meningkatkan daya tahan tubuh, mempercepat pemulihan saat sakit," terangnya.

Vitamin C dapat diperoleh melalui buah-buahan maupun tablet hisap seperti XonCe. Tablet dengan format hisap seperti XonCe ini merupakan salah satu solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan vitamin C dalam tubuh.

Simak Video "Bahayanya Polutan PM2,5 Bagi Kesehatan Tubuh"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/up)