Minggu, 18 Agu 2019 13:54 WIB

'Detoks' Kafein Mumpung Akhir Pekan, Begini Caranya

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Biar tak kecanduan, sesekali perlu detoks kafein (Foto: iStock) Biar tak kecanduan, sesekali perlu detoks kafein (Foto: iStock)
Jakarta - Tanpa sadar, sebagian dari kita telah sangat bergantung pada asupan kafein. Tuntutan hidup sehari-hari mengharuskan seseorang untuk selalu terjaga, tak sedikitpun boleh mengantuk. Asupan kafein, dalam hal ini kopi, jadi andalan hampir setiap hari.

Berbagai penelitian menyebut, 400 mg kafein dalam sehari masih bisa dikategorikan aman. Angka tersebut kurang lebih setara dengan 3-4 cangkir kopi.

Namun bagi yang sensitif, secangkir saja kopi bisa menyebabkan jantung berdebar-debar. Tak kalah mengkhawatirkan, bisa juga mengalami ketergantungan. Seolah-olah belum punya 'nyawa' kalau belum menyeruput kopi.

"Kafein merupakan 'obat' psikoaktif yang paling umum dikonsumsi," kata Mary M Sweeney, seorang peneliti kafein dari Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku, John Hopkins University.


Penelitian menyebut 400 mg kafein sehari masih dikategorikan aman.Penelitian menyebut 400 mg kafein sehari masih dikategorikan aman. Foto: thinkstock

Mumpung libur akhir pekan, tidak terlalu banyak tuntutan untuk selalu terjaga, tidak ada salahnya mengevaluasi kebiasaan minum kopi. Dikutip dari CNN, berikut tips yang bisa dicoba.

1. Buat catatan harian
Berguna untuk memastikan seberapa banyak asupan kopi rata-rata tiap hari. Bisa jadi lebih banyak dari yang kita kira. Atau sebaliknya, ternyata tak sebanyak yang kita khawatirkan. Penelitian Sweeney membuktikan cara ini berhasil menurunkan intake kafein dari 600 mg sehari menjadi 50 mg sehari dalam periode 6 pekan.

2. Kenali sumber kafein lainnya
Kafein hanya ada dalam kopi? Tidak usah pura-pura lupa, sebagian dari kita pasti pernah membaca label nutrisi pada produk-produk minuman berenergi. Jelas tercantum di sana, kafein termasuk dalam komposisinya. Demikian juga dalam minuman bersoda, teh, dan bahkan cokelat. Kalau mau mengurangi asupan kafein, perhitungkan juga semua itu.

3. Kurangi secara bertahap
Sweeney menyebut, cara paling efektif mengurangi ketergantungan kafein adalah dengan mengurangi jumlah asupan secara bertahap. "Jika sekarang minum 4 cangkir sehari, kamu bisa menguranginya secangkir tiap pekan. Secangkirnya bisa kamu ganti dengan kopi decaffeinated," katanya.



4. Ganti dengan alternatif
Menghindari sama sekali tentu tidak mudah, dan tidak selalu harus dilakukan. Ada kalanya, mengurangi asupan kafein cukup dilakukan dengan mengganti sumbernya. Bila terbiasa minum kopi, bisa diganti dengan geen tea misalnya, yang kandungan kafeinnya lebih sedikit.

5. Antisipasi 'sakaw'
Sweeney menyarankan untuk menghindari situasi yang memungkinkan keinginan minum kopi muncul terus, terutama pada beberapa pekan pertama sejak memutuskan untuk mengurangi kopi. Rencanakan sesuatu bila tiba-tiba sangat ingin minum kopi, misalnya dengan teknik relaksasi dan pernapasan.



Simak Video "Suka Tidur dengan Bantal Tinggi? Waspada Gejala Penyakit Jantung"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)