Rabu, 21 Agu 2019 10:31 WIB

ROUND UP

Tidak Perlu Jijik, Terapi Lintah Bisa Atasi 'Ketergantungan' Obat

Rosmha Widiyani - detikHealth
Terapi lintah. Foto: Dok. Pribadi Terapi lintah. Foto: Dok. Pribadi
Jakarta - Lintah sampai sekarang masih dipandang remeh karena dianggap menjijikkan dan mengisap darah. Maria Fatima Bona juga berpandangan serupa, namun berubah setelah mencoba terapi lintah pada 2018.

Fat, demikian biasa disapa, merasakan maanfaatnya yaitu tidak lagi terus menerus sakit kepala. Sebelumnya Fat mengalami sakit kepala akibat tekanan pekerjaan dan pola hidup setiap hari. Tiap sakit kepala Fat selalu minum obat demi mengusir rasa tidak nyaman tersebut.

"Dulu kalau pas nggak enak langsung minum, karena yang penting nggak pusing dan sakit kepala lagi. Sekarang sudah nggak lagi abis terapi lintah. Waktu itu ditaruh juga di kepala 4 atau 5 ekor," kata gadis 23 tahun tersebut pada detikHealth.

Menurut Fat, dia sebelumnya tak tertarik mencoba terapi lintah. Namun, berubah setelah dua saudaranya sempat mencoba terapi tersebut. Dua saudaranya mengalami gangguan fungsi liver dan mata minus.



Fat mengatakan, sebelum terapi dia ditanya terlebih dulu seputar gangguan yang dialami. Terapis kemudian menentukan lokasi tubuh yang ditempel lintah. Saat itu lintah ditempel di kepala, punggung, dan telapak kaki.

"Kalau titik yang ditempel salah, lintahnya jatuh gitu nggak mau nempel. Kalau tepat, dia langsung nempel dan baru jatuh pas sudah gendut. Saya lihat sendiri tuh lintahnya dari kecil sampai jadi gede," kata Fat.



Menurut praktisi terapi lintah yang kerap disapa Pak Jhon, tidak sembarang lintah bisa digunakan dalam terapi. Lintah mendapat perlakuan khusus sebelum bisa digunakan dalam pengobatan.

"Lintah yang akan digunakan dalam terapi dipuasakan dulu, supaya semua makanan yang ada dalam perut lintah dicerna sampai perutnya kosong. Masa puasa lintah sebaiknya selama tiga minggu," kata Pak Jhon.

Hewan lintah tidak asal mengisap darah yang ada di dalam tubuh manusia. Lintah hanya mengisap sel darah yang sudah mati. Dengan sifat ini, tak perlu khawatir mengalami kekurangan darah usai terapi. Namun Pak Jhon menetapkan syarat bagi yang ingin mencoba terapi.

"Standarnya hemoglobin (Hb) lima untuk pria dan wanita supaya jangan terlalu rendah. Jika kurang dari 5 maka pasien dilarang melakukan terapi lintah. Dengan memastikan kadar Hb mencegah pasien terkena anemia usai menjalankan metode ini," kata Pak Jhon.



Terapi sebaiknya diberikan satu kali dalam seminggu untuk menjamin manfaat pengobatan. Pak Jhon mengatakan, tubuh biasanya akan terasa lemas dalam waktu 3 hari usai terapi. Karena itu, Jhon menyarankan konsumsi makanan bergizi atau multivitamin untuk membantu pembentukan sel darah merah.

Terapi lintah bisa digunakan untuk semua jenis penyakit. Sesuai pengalaman Pak Jhon, yang tidak bisa ditangani dengan terapi lintah adalah kerusakan syaraf sejak lahir dan pengeroposan tulang. Tiap penyakit perlu penanganan dan frekuensi terapi berbeda hingga kembali sehat.



Simak Video "Bekam Tanduk Sapi, Pengobatan Terapi Alami yang Istimewa"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/wdw)