Jumat, 23 Agu 2019 07:12 WIB

Sedikit-sedikit 'Patenkan', Temuan Seperti Apa Sih yang Bisa Dipatenkan?

Nabila Ulfa Jayanti - detikHealth
Paten untuk sebuah penelitian medis tidak sesimpel yang dibayangkan (Foto: iStock) Paten untuk sebuah penelitian medis tidak sesimpel yang dibayangkan (Foto: iStock)
Jakarta - Temuan mutakhir di bidang pengobatan sepertinya begitu dinantikan. Tak heran tiap kali ada kabar tentang penelitian, selalu ada seruan untuk segera mematenkannya sebelum 'diklaim' pihak asing.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH menjelaskan, paten untuk sebuah penelitian tidak bisa dilakukan sembarangan. Terlebih untuk penelitian yang sangat awal, tidak serta merta langsung bisa dipatenkan.

Begitupun pada penelitian herba atau tanaman dengan khasiat tertentu. Seorang peneliti tidak mungkin hanya mematenkan tanamannya saja karena tanaman tersebut adalah ciptaan Yang Maha Kuasa.

"Misalnya ditemukan zat dari situ yang punya efek sebagai antikanker, baru itu yang kita klaim," jelas Prof Ari dalam perbincangan dengan detikHealth baru-baru ini.

Proses hingga mendapat paten tidaklah mudah. Butuh penelitian yang profesional dan konsisten selama bertahun-tahun. Tim peneliti Fakultas Kedokteran UI bahkan membutuhkan 4 tahun untuk mendapat paten atas penelitian daun sambiloto untuk mengobati kanker payudara.



Beragam uji harus dilewati agar siap edar di pasaran. Setelahnya pun harus tetap dilakukan uji lebih lanjut.

"Kalau sudah praklinik atau sebelum masuk klinik, baru ke uji klinik itu yg 4 tahap itu pada manusia, misal pada orang normal, pada orang yang sakit. Kemudian market, setelah market itu bagaimana," jelas Prof Ari.

FKUI baru-baru ini mengungkap salah satu tim penelitinya mendapatkan 3 paten terkait kanker payudara. Salah satunya atas temuan senyawa andrografolida dari daun sambiloto yang memiliki efek antikanker.



Simak Video "Kenali Metastasis dan Proteksi Dini Tumor Ganas"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)