Jumat, 23 Agu 2019 08:06 WIB

Waspadai Risiko Penyakit Ini Sebelum Ikut-ikutan Tren Olahraga

Kintan Nabila - detikHealth
Ilustrasi olahraga dengan fitness tracker. Foto: thinkstock Ilustrasi olahraga dengan fitness tracker. Foto: thinkstock
Jakarta - Apakah kamu sering lihat orang yang senang posting foto olahraga di media sosial. Contohnya, ketika ajang lari di car free day (CFD). Awas, olahraga bukan hanya untuk gaya-gayaan saja, lho!

"Banyak yang ikut-ikutan aja, padahal belum tahu kemampuannya sampai mana. Biasa kalau daftar online suka ditanyain, pernah ikut lari berapa jauh? kapan? Tapi, kadang pesertanya suka akal-akalan yang penting bisa ikut," kata Muhammad Nur Kamaluddin dari Komunitas Jakarta Berlari.

Faktanya, tren ajang lari di Indonesia kini semakin meningkat pesat. Dalam tiga tahun terakhir ajang lari di Indonesia jumlahnya meningkat 33 persen. Dari 288 kegiatan di tahun 2017, menjadi 341 kegiatan di tahun 2018. Bahkan pertengahan tahun ini saja, sudah terdapat 253 ajang lari.



Sayangnya, peningkatan ajang lari ini berbanding lurus dengan peningkatan korban meninggal saat berlari. Mengingat lima korban jiwa meninggal dalam empat ajang lari pada 2018 hingga pertengahan 2019. Hal ini bisa terjadi, karena orang-orang kerap mengabaikan riwayat kesehatan mereka ketika ikut-ikutan tren olahraga.

Praktisi kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr Jack Pradono Handojo, MHA, menyebutkan penyakit-penyakit yang mesti diwaspadai saat melakukan olahraga.

1. Hipertensi

"Terutama untuk ayah atau kakak kita yang umurnya sudah di atas 40 tahun, tapi lagi demen-demennya ikut demam lari. Ingatkan untuk mengecek, adakah dia hipertensi. Karena ini akan membebani jantung," kata dokter Jack, saat ditemui di FKUI Salemba, Rabu (21/8/2019).

Namun, bukan berarti orang dengan riwayat penyakit hipertensi tidak boleh lari. Sebelumnya, dilihat dulu apakah dia terkontrol obat-obatan,

"Kalau dia terkontrol sebetulnya enggak haram kok lari, malah membantu menurunkan tensi. Cuma jangan sampai lari dengan kondisi hipertensi," katanya.



2. Asma

"Misalnya dia bengek, seminggu sekali atau dua kali. Olahraga aja kumat, jangan disuruh lari nanti terpicu," kata dokter Jack.

Bengek atau asma adalah salah satu masalah paru yang mesti dikhawatirkan saat olahraga berat. Terutama untuk orang yang memiliki asma dan terkontrol obat-obatan. Tapi kalau misalkan sudah 3-6 bulan enggak kumat, lari justru malah bermanfaat.

"Pada waktu kita lari, tubuh mengeluarkan hormon seperti adrenalin. Jadi sebetulnya lari adalah bagian dari terapi asma," katanya.



3. Nyeri otot dan sendi

"Olahraga berat akan membebani sistem otot dan sendi. Misalnya orang yang beratnya 100 kg, lalu diajak lari 5 K habis itu jebol lututnya. Kenapa? karena bebannya terlalu berat. Orang yang beratnya 55 Kg, kalau disuruh lari bawa beras 50 kg juga lututnya jebol," kata dokter Jack.

Untuk orang dengan berat badan berlebih tidak direkomendasikan untuk lari. Lalu olahraga apa yang disarankan?

"Kan ada olahraga yang enggak membebani lutut misalnya jalan kaki, bersepeda atau kalau naik sepeda juga membebani, bisa berenang," katanya.

Namun ia mengingatkan kembali untuk tidak melakukannya secara berlebihan.

"Strateginya kita harus bisa menyesuaikan. Olahraga wajib, tapi disesuaikan dengan kondisi," pungkasnya.



Simak Video "Kapan Waktu Yang Tepat Lakukan Olahraga Saat Puasa?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)