Sabtu, 24 Agu 2019 17:30 WIB

Predator Seks Mojokerto Divonis Kebiri, Psikolog Tak Yakin Bisa Dieksekusi

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Kebiri atau kastrasi kimia dilakukan dengan obat yang sama dengan obat untuk kanker prostat (Foto: iStock) Kebiri atau kastrasi kimia dilakukan dengan obat yang sama dengan obat untuk kanker prostat (Foto: iStock)
Jakarta - Seorang tukang las di Mojokerto, Jawa Timur, dijatuhi hukuman kebiri kimiawi. Dalam persidangan, predator seks ini dinyatakan bersalah memperkosa 9 anak.

Kebiri kimiawi merupakan tindakan yang diberikan untuk memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan seks. Caranya dengan memberikan obat penekan testosteron, yang efeknya menurunkan libido atau gairah seks.

Psikolog Forensik, Reza Indragiri Amriel, menyebut ada beberapa hal yang membuatnya tidak yakin hukuman kebiri kimiawi ini bisa dieksekusi.

"Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menolak untuk menjadi pelaksana. Karena di Indonesia hukuman ini adalah retributif. Kata IDI, dokter itu bertugas untuk menyembuhkan, bukan balas dendam," katanya melalui pesan singkat pada detikHealth, Sabtu (24/8/2019).



Selain itu, lanjut Reza, di Indonesia dijatuhkan tanpa persetujuan dari pelaku. Ini dapat membuat pelaku semakin buas lagi.

"Karena dijatuhkan tanpa kehendak terdakwa, alhasil bisa-bisa pelaku menjadi predator dengan kelainan seksual Mysoped," jelas Reza.

"Di luar, kebiri adalah permintaan pelaku. Pantaslah kalau di sana kebiri kimiawi mujarab," lanjutnya.



Reza menjelaskan, di luar negeri, hukuman kebiri kimiawi ini difilosiofikan untuk rehabilitasi. Ini pun dilakukan berdasarkan permintaan dari pelaku, dan membuat kebiri kimiawi sangat ampuh untuk mengatasi permasalahan predator seksual.

Menurutnya, walaupun Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto telah mencantumkan ini dalam putusannya, tetap tidak bisa dieksekusi karena belum ada ketentuan teknis kastrasi kimiawi.

"Akibatnya, Undang-Undang (UU) Nomor 17/2016 (tentang perlindungan anak) melongo bak macan kertas," imbuhnya.



Simak Video "Blak-blakan IDI: Kebiri, Hukuman Atau Rehabilitasi?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)