Selasa, 27 Agu 2019 18:30 WIB

5 Hal yang Membuat Jakarta Punya Pengidap Diabetes Paling Besar

Mic - detikHealth
Jakarta jadi salah satu kota dengan pengidap diabetes terbanyak. (Foto: Shinta Angriyana/detikTravel) Jakarta jadi salah satu kota dengan pengidap diabetes terbanyak. (Foto: Shinta Angriyana/detikTravel)
Jakarta - Jakarta merupakan salah satu kota dengan jumlah pengidap diabetes paling tinggi se-Indonesia. Penyakit ini ditandai dengan ketidakmampuan tubuh mengontrol kadar gula darah.

Dua pertiga masyarakat perkotaan hidup dengan diabetes. Sebagian besar dipicu oleh gaya hidup masyarakat yang kurang sehat. Berikut lima masalah utama yang membuat jumlah pengidap diabetes di Jakarta masih tinggi:


1. Jumlahnya meningkat
Jakarta merupakan kota dengan pravelensi diabetes tertinggi di Indonesia dengan jumlah yang terus meningkat namun tetap belum terdiagnosis secara maksimal.

Jakarta merupakan kota dengan pravelensi diabetes paling tinggi se-Indonesia dan jumlahnya terus meningkat. Hasil RISKESDAS 2018, memperlihatkan pravelensi diabetes di Jakarta meningkat menjadi 3,4 persen dari sebelumnya 2,5 persen di tahun 2013. Ini berarti ada sekitar 250 ribu orang dengan usia di atas 15 tahun yang terkena diabetes. Namun, berdasarkan Diabetes Surveillance Data, pasien diabetes yang terdaftar berjumlah 12.775 jiwa.

2. Obesitas
Obesitas menjadi salah satu faktor tingginya angka diabetes Jakarta. Sekitar 60 persen penderita obesitas sentral merupakan pasien diabetes yang terdaftar di Dinas Kesehatan.


3. Tak terdiagnosis
Underdiagnosed disebabkan oleh rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai diabetes. Hanya 30 persen dari pasien diabetes yang memahami diabetes dan cara penanganannya. Hanya 30 persen pasien diabetes yang melakukan pengaturan pola makan dan aktivitas fisik. Kesadaran masyarakat untuk ikut kegiatan Pos Binaan Terpadu (POSBINDU) masih tergolong rendah.

4. Skrining belum berjalan
Fungsi FKTP (Puskesmas) dan POSBINDU sebagai gatekeeeper untuk skrining Diabetes masih belum optimal. Hanya 53 persen masyarakat yang mengetahui adanya skrining diabetes di Puskesmas. Faktanya, kegiatan POSBINDU masih terkendala dana operasional karena beberapa area kurang didukung oleh Pemda setempat. Kesadaran masyarakat pun masih kurang untuk mengikuti skrining faktor risiko diabetes.

5. Tata laksana belum optimal
Hanya 30 persen pasien diabetes yang mencapai target glikemik. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah pasien dengan jumlah dokter spesialis diabetes di fasilitas pelayanan kesehatan Indonesia. Kurangnya tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dalam kontrol diabetes dan rendahnya tingkat konsumsi insulin juga menjadi faktor penyakit diabetes tak terkendali.



Simak Video "Sambut Bahagia Kelahiran Bayi Kembar 3 di Parepare"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)