Jumat, 30 Agu 2019 09:41 WIB

Kebiri Kimia Diperkirakan Habiskan Rp 40 Juta, Kalau Rehabilitasi?

Sudrajat - detikHealth
Ketua PB IDI, dr Daeng M Faqih. (Foto: Screenshoot 20detik) Ketua PB IDI, dr Daeng M Faqih. (Foto: Screenshoot 20detik)
Jakarta - Ketua umum Ikatan Dokter Indonesia dr Daeng Mohammad Faqih mengungkapkan dalam sebuah diskusi terungkap biaya untuk sekali suntik kebiri kimia sekitar Rp 5 juta. Pemberian obat ini harus diberikan setiap tiga bulan sekali, dan sesuai undang undang maksimal hingga dua tahun.

"Artinya, harus delapan kali diberikan dengan total biaya sekitar Rp 40 juta," kata Daeng kepada detikhealth di ruang kerjanya, Kamis (29/8/2019).

Ia tak menyebut apakah anggaran sebesar itu terlalu besar dan memberatkan keuangan negara atau tidak. Hanya saja Daeng memaparkan bahwa tindakan kebiri kimia akan lebih efektif bila diketahui benar aksi si terpidana predator cuma karena tingginya libido seksual. Tapi dia juga mengingatkan bila si predator ternyata mengidap gangguan kejiwaan, tindakan kebiri kimiawi tidak akan memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Sebaliknya si predator fisiknya akan mengalami sejumlah efek samping, dan secara kejiwaan dia akan depresi. "Akibatnya dia berpotensi menjadi predator yang lebih buas," kata Daeng seraya mempersilahkan untuk meminta pendapat dari dokter ahli lain terkait isu ini.

Foto: infografis detikHealth


Saat ini, dia melanjutkan, sejumlah pihak seperti terjebak dengan istilah hukuman tambahan dengan kebiri kimia seolah lebih berat ketimbang rehabilitasi. Padahal kenyataannya tak selalu demikian. Sebab terpidana yang menjalani rehabilitasi akan dilepaskan dari penjara bila benar-benar telah pulih dari gangguan kejiwaannya. Kalau tindakan kebiri kimia dilakukan maksimal dua tahun setelah masa hukuman utama.

"Kalau setelah menjalani hukuman utama lalu ditambah kebiri kimia selama dua tahun, otomatis dia harus dibebaskan bila waktunya sudah tercapai meskipun dia belum sembuh benar," kata Daeng.

Soal besaran anggaran yang diperlukan akan lebih besar untuk kebiri kimia atau rehabilitasi, Daeng tak bisa memastikan. Dia cuma menekankan hukuman tambahan dalam bentuk rehabilitasi sudah banyak dilakukan di negara-negara yang sebelumnya menerapkan kebiri kimia. Sebab dengan rehabilitasi potensi keberhasilannya lebih terjamin. "Itu bisa mencapai 80 persen tingkat kepulihannya," kata Daeng.

Selengkapnya tentang sikap PB IDI terhadap kebiri kimia bisa disimak dalam program 'Blak-blakan' hari ini.



Simak Video "Blak-blakan IDI: Kebiri, Hukuman Atau Rehabilitasi?"
[Gambas:Video 20detik]
(jat/up)