Edwin, asal Madiun, hampir dua tahun melaju di jalanan sebagai driver ojek online (ojol) sebagai sumber mata pencahariannya. Pekerjaan ini dikenal punya risiko kesehatan, seperti nyeri pinggang, masuk angin, hingga microsleep, tak terkecuali Edwin pun pernah mengalaminya.
"Iya pernah (pegal pinggang). Pulang minta istri olesin balsem. Belum pulang yang malem, tidurnya cuma sebentar, makan sembarangan. Apalagi saya ini gemuk," cerita bapak beranak satu ini kepada detikHealth, Sabtu (31/9/2019).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal diakuinya keluarganya cukup higienis dan sehat, namun meski mengalami hal-hal tersebut Edwin termasuk anggota keluarga yang paling sehat. Menyadari banyak risiko menjadi seorang driver ojol, ia selalu menyempatkan berolahraga lari keliling kompleks rumah sebelum berangkat kerja.
"Saya suka baca entah itu buku atau apa, kalau saya (sakit) begini oh kurang air putih, kurang apa. Setiap pagi lari keliling kompleks. Ngos-ngosan, keringetan, udah cukup," sambungnya.
Edwin juga memutuskan untuk berhenti merokok, karena ia merasa semakin tidak menyehatkan walau cukup banyak juga driver lain yang melakukannya. Ia juga meluangkan waktu untuk pulang di siang hari untuk makan di rumah, daripada jajan sembarangan di warung saat menanti orderan.
Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga penting. Sering bersyukur dan menjauhi hal-hal negatif menjadi kunci Edwin yang dikenal sebagai sosok positif.
"Sebisa mungkin semua hal harus diambil sisi positifnya," tandasnya.
(frp/kna)











































