Rabu, 04 Sep 2019 09:20 WIB

Potong Usus Turunkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke pada Diabetes

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi operasi. (Foto: thinkstock) Ilustrasi operasi. (Foto: thinkstock)
Jakarta - Operasi potong usus ternyata bisa mengurangi risiko stroke, serangan jantung, dan kematian akibat diabetes. Riset menggunakan operasi berbiaya tinggi ini dilakukan tim dari Cleveland Clinic, Ohio.

Pada pasien diabetes tipe 2, operasi berhasil menurunkan risiko menalami serangan jantung sebesar 35 persen. Dengan peluang ini, risiko kematian pada pasien diabetes menjadi lebih kecil setelah operasi yang disebut bariatric surgeries.

Tindakan operasi potong usus dilakukan dengan restriksi dan malabsorpsi. Restriksi diterapkan dengan mengurangi ukuran lambung untuk membatasi jumlah asupan makanan. Sementara malabsorpsi dilakukan untuk membatasi penyerapan makanan, dengan memotong (by pass) sebagian usus kecil.

"Riset menunjukkan operasi bariatrik memang bisa mengurangi risiko kematian cukup besar akibat obesitas dan diabetes. Namun ini bukan usaha terakhir karena riset ini masih akan dikembangkan," kata pimpinan riset Dr Ali Aminian yang juga dokter bedah bariatrik di Cleveland Clinic.


Kepala Reuters Health dikutip dari Daily Mail, Dr Aminian yakin, operasi bariatrik seharusnya direkomendasikan sejak awal bagi pasien dengan diabetes dan obesitas. Namun riset tidak memuat efek jangka panjang setelah operasi dan faktor lain yang bisa mendorong penurunan risiko kematian akibat berat badan berlebih.

Studi yang dimuat dalam Journal of the American Medical Association melibatkan 2.300 dewasa, yang mengalami diabetes tipe 2. Mereka mengalami operasi bariatrik sesuai kebutuhannya, sedangkan 11.500 responden lain tidak mengalami tindakan operasi.

Tindakan operasi bariatrik biasanya dilakukan mereka yang memiliki berat badan berlebih, setelah yang bersangkutan menjalani diet dan olahraga. Responden dalam riset ini memiliki indeks massa tubuh lebih dari 30, dengan paling besar mencapai 40.


Responden juga mengkonsumi sedikitnya satu obat dibetes, atau punya kadar glycated hemoglobin (HbA1c) 6,5 persen dan lebih besar. Kadar HbA1c mengindikasikan rendahnya kontrol kadar gula darah pada seorang pasien.

Pada responden yang dioperasi, kehilangan berat badan sekitar 64 pounds atau setara 29 kilogram. Sedangkan grup kontrol atau yang tidak menjalani operasi bariatrik kehilangan 19 pounds atau setara 8,6 kilogram berat badan.

Sebagai tambahan, sekitar 8 tahun setelah riset terjadi gangguan kardiovaskuler pertama pada responden. Serangan terjadi pada 31 persen responden yang dioperasi dan 48 persen yang tidak mengalami operasi. Gangguan kardiovaskuler meliputi serangan dan gagal jantung, stroke, irama tidak teratur.


Kadar HbA1c rata-rata pada responden yang dioperasi sekitar 1,1 persen lebih rendah, daripada yang tidak mengalami operasi. Terlepas dari dengan atau tanpa operasi, pasien menjalani pengobatan untuk jantung dan diabetes.

Dokter ahli endokrin Dr Jeffrey Mechanick dari Marie-Josee and Henry R. Kravis Center for Cardiovascular Health di Mount Sinai Heart and Icahn School of Medicine berharap studi bisa dilakukan lebih lengkap dan menyeluruh. Studi seharusnya dilakukan dalam bentuk prospektif untuk pasien.

"Kita perlu studi prospektif karena dokter tidak akan menganjurkan operasi bariatrik untuk yang berisiko rendah. Riset juga harus bisa membuktikan efektivitas dan efisiensi operasi dibanding pengobatan biasa dan perubahan gaya hidup," kata Dr Mechanick.



Simak Video "Cerita Penulis Vabyo Kena Stroke di Usia 35 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)