"Berita meninggalnya Pak Habibie yang beredar pagi ini tidak benar/hoax," kata Adrie pada detikcom.
Hoax meninggalnya BJ Habibie beredar dengan cepat di Facebook dan menyebar lebih jauh lewat WhatsApp. Sebagai contoh satu unggahan yang dibuat pengguna Facebook pada Selasa (10/9) pagi tentang meninggalnya Habibie sudah dibagikan lebih dari 300 kali hanya dalam waktu beberapa jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenapa sih kita sepertinya sulit sekali menyaring berita yang belum jelas kebenarannya?
Menurut peneliti Dr Berry Juliandi, Msi, Sekretaris Jendral Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) alasan ilmiahnya karena ada sensasi yang sengaja dicari. Dengan menyebar kabar yang orang lain belum banyak tahu para penyebar hoaks bisa jadi ingin mendapat pujian tentang informasi yang dibagikan.
"Orang itu kalau dapat informasi atau fakta baru, terlepas itu hoaks atau bukan dia tidak terlalu mikir itu apa. Dia ingin jadi orang yang pertama yang menyebar itu supaya terlihat pintar, menaikkan reputasi dia, dia yang tahu duluan," ujar Dr Berry.
Saat mendapat pujian atau reputasi tersebut neurotransmitter di otak akan terpicu untuk menghasilkan hormon oksitosin. Dampaknya perasaan senang ditimbulkan dan bisa membuat seseorang jadi ketagihan.
"Kan kadang suka dijawab tuh di WA Group 'terima kasih sharingnya,'. Oksitosin (terproduksi --red), hormon yang membuat kita senang. Jadi itu ada reward. Akibatnya apa? Akhirnya kita terus-terus lagi melakukan itu," pungkasnya.
(fds/up)











































